Monday, December 21, 2009

CHRISTMAS PRAYER FOR ALL PEOPLE





Tak terasa Natal hanya tinggal beberapa hari saja. Begitu banyak persiapan yang gereja lakukan menyambut Natal ini. Kesibukan yang melanda tak sadar membuat kita lupa meluangkan waktu untuk berdoa, bukan hanya berdoa bagi persiapan Natal itu sendiri, namun berdoa agar Kristus juga lahir ke dalam hati mereka yang tertimpa oleh kemalangan, bukan hanya secara lahir tetapi juga batin.
Ketika saya membaca sebuah buku doa, berjudul A Book of Reformed Prayer (Louisville: Westminster John Knox, 1998), saya mendapati satu doa yang dinaikkan pada abad 20 oleh seorang teolog besar, Karl Barth (1886-1968), demikian:
O, Lord, our God, when we are afraid do not let us despair. When we are disappointed do not let us become bitter. When we fall do not let us remain prostrate. When we are at the end of our understanding and our power, do not let us then perish. No, let us feelthe Thy nearness and Thy love, which Thou hast promised especially to those whose heart are humble and broken and who stand in fear before Thy word. To all men Thy Son has come as to those who are beset. Indeed, because we are all so beset he was born in a stable and die on a cross. Lord, awaken us all and keep us all awake to this knowledge and to this confession.
And now we think of all the darkness and suffering of this our time; . . . of all the burdens that so many must bear uncomforted . . . . We think of the sick and the sick in spirit, the poor, the displaced, the oppressed, those who suffer injustice, the children who have no parents or no proper parents. And we think of all who are called to help . . . the judges and officials, the teachers and leaders of youth, the men and women who are responsible for writing books and newspapers, the doctors and nurse in the hospitals, those who proclaims Thy word in the various churches and congregations near at hand and far away. We think of them all with the petition that the light of Christmas may shine brightly for them and for us, much more brightly than before, that thereby they and we may be helped. We ask all this in the name of the Savior in whom Thou hast already heard us and wilt hear us again and again. Amen.

Thursday, November 5, 2009

Tikus

Para sarjana menggunakan tikus sebagai uji coba dari penelitian mereka, dan pada akhirnya terkagum-kagum dengan penemuan mereka. Mereka memilih dua ekor tikus yang punya dua ciri yang sama. Mereka mengambil salah satu daripadanya dan menaruhnya ke dalam sebuah bak air yang besar. Tidak ada jalan bagi tikus itu untuk bisa naik dari dinding bak untuk keluar. Mereka ingin melihat berapa lamakah tikus itu dapat bertahan berenang di dalam air bak itu sebelum akhirnya mati tenggelam. Percobaan ini dilakukan mutlak tanpa adanya cahaya lampu, sama sekali dalam keadaan gelap gulita. Kemudian, bagaimana hasilnya?? Kenyataannya mereka tidak perlu menunggu lebih lama. Hanya dalam waktu tujuh menit tepat, tikus itu menyerah dan mati lemas.

Sekarang, mereka mengambil tikus kedua, dan menaruhnya ke dalam bak yang sama. Akan tetapi, kali ini mereka biarkan ada sedikit cahaya lampu bersinar ke atas permukaan air bak. Tikus itu berenang-renang dan terus berenang, sampai setelah 36 jam, tikus itu menyerah dan mati lemas.

Keadaan gelap gulita mutlak membuat kita mudah menyerah dan hilang pengharapan. Yesus berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12, 9:5). Yesus mengatakan hal ini, di dalam konteks Yesus menyembuhkan seorang buta. Seorang buta, yang tiada pengharapan, yang hidupnya selalu mengemis (9:8), karena itu ia membutuhkan orang lain. Hidup dalam gelap gulita, tanpa pengharapan, ia membutuhkan lebih dari sekedar uang atau makanan untuk menyambung hidup. Datanglah Yesus, yang mampu mencelikkan dia, menerangi dia, membuat hidupnya menjadi berpengharapan. Yesus mengerti dan memenuhi kebutuhan utamanya. Celiknya orang buta ini tidak hanya membawa pengharapan baru bagi orang ini, tetapi ia pun sekarang mengenal Yesus dan percaya kepada-Nya (9:38). Praise God!!

Pengalaman Unik di Sibolga (part 2)

Hari Senin, 2 November, saya dan beberapa jemaat dan ibu pendeta makan pagi di sebuah rumah makan. Berikut percakapan antara saya, jemaat, dan pelayan:
Pelayan: mau minum apa, Pak?
Peter: teh tawar hangat saja..
Pelayan: ?????? The tawar?? Gak ada teh tawar di sini.
Jemaat 1: Pak Peter, mau minum apa?
Peter: teh tawar hangat saja..
Jemaat 1: air putih hangat??
Peter: ???? teh tawar hangat, bu..
Jemaat 1: Oh, air bubuk?? The tong??
Peter: ???? (semakin bingung). Air bubuk?? Teh tong??
Jemaat 1: Teh tawar hangat kan??
Peter: Iya.
Jemaat 1: Ya udah, mbak, teh tong saja 4 gelas.
Peter: Oh, di sini kalo bilang teh tawar hangat itu teh tong ya, bu??
Jemaat 1: Iya.
Peter: Oh, jadi kalo bilang teh tawar hangat tuh artinya apa?
Jemaat 1: itu air putih hangat.
Peter: Oh, pantes. (dalam hati: pantesan hari jumat gw dikasih air putih hangat).
Jemaat 2: kalo teh manis hangat??
Jemaat 1: ya sama, teh manis hangat.
Peter: (dalam hati: yah, memang jika kita memasuki konteks budaya yang baru, mau tidak mau membuat kita belajar budaya setempat, kalo kita gak mau dicap sebagai orang aneh.)

Pengalaman Unik di Sibolga

Hari pertama sampai di Sibolga, Jumat, 30 Oktober 2009, sarapan pagi bersama ibu pendeta. Seperti biasa, seorang pelayan datang untuk menanyakan menu makanan yang dipesan. Berikut adalah perbincangan antara pembeli dan pelayan:
Pelayan: mau makan apa, Pak??
Peter: nasi goreng aja deh (makanan favorit)…
Ibu pendeta: sama deh, jadi pesen dua ya..
Pelayan: minumnya??
Peter: teh tawar hangat aja...
Ibu pendeta: ???? teh tawar?? Ya udah, air putih hangat saja dua..
Peter: ????
Pelayan: Ok..
Setelah beberapa saat kemudian, pelayan datang sambil membawa nasi goreng dan air putih hangat.
Peter: (sambil makan, sambil bertanya-tanya, apakah di Sibolga gak ada teh??)

Monday, October 12, 2009

The Reformation Confession of Sins (1525)

Heavenly Father, merciful and everlasting God, we acknowledge and confess before Thy Devine Majesty that we are poor miserable sinners, conceived and brought forth in sin and corruption. We are prone to all evil. We cannot, without Thee, do anything that is good. And we daily, and in many ways, transgress Thy holy commandments. Thereby we provoke Thine anger against us, and draw upon ourselves, by Thy just judgments, death, and destruction.

But, O Lord, we repent and are sorry from our hearts that we have so displeased Thee. We condemn ourselves and our misdoing, and pray that Thy grace may bring help to our distress and misery.

Be pleased, therefore, to have mercy upon us, O most gracious God and Father. Forgive us all our sins, through the holy sufferings of Thy dear Son, our Lord Jesus Christ. Forgive us our sins; and grant us now the gifts of Thy Holy Spirit. Increase these in us from day to day; so that we, acknowledging with our whole hearts our own righteousness, may truly repent us of the same; that sin may be destroyed in us; and that we may bring forth the fruits of righteousness and a pure life which are well pleasing unto Thee, through Jesus Christ, Amen.


Doa ini merupakan doa pengakuan dosa yang dibuat untuk mengenang John Oecolampadius (1482-1531). Beliau adalah salah seorang pemimpin reformasi di Basel. Doa ini muncul di dalam liturgi Reformed Church of Zurich pada tahun 1525. Doa ini kadang dihubungkan dengan Martin Bucer dan juga diadaptasi dan digunakan oleh John Calvin.


*Dikutip dari A Book of Reformed Prayers (Louisville: Westminster John Knox, 1998)