Showing posts with label Khotbah. Show all posts
Showing posts with label Khotbah. Show all posts

Wednesday, April 27, 2011

LEBIH DARI CUKUP


Luk. 23:42-43.

Penjahat di sebelah Yesus meminta (ay. 42), “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” lalu Yesus menjawab permintaan penjahat ini (ay. 43) dengan perkataan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.” Ini benar-benar bukan perkataan biasa. Ini perkataan yang kita pegang dalam iman dan aktifitas kita setiap hari.

Mari kita lihat juga:
“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” (Ef. 3:20-21)

Sekarang perhatikan kalimat, “dapat melakukan jauh lebih banyak . . .” Penjahat kedua itu, menerima hal ini dari Tuhan. Penjahat ini menerima lebih dari apa yang dia minta.

Mari kita lihat satu per satu akan permintaan penjahat dan respon jawab Yesus:
• Penjahat ini meminta sebuah berkat, waktunya adalah nanti ketika Yesus datang sebagai Raja, ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya. Tetapi apa jawab Yesus pada saat itu? Yesus berkata, “Sesungguhnya hari ini . . .”
• Penjahat meminta untuk “diingat.” Hanya itu yang berani dia minta sesuai kapasitas dirinya. Tetapi apa yang dia terima adalah sebuah jaminan, seolah Yesus berkata, “Aku bukan cuma akan mengingat kamu, tetapi kamu akan ada bersama-sama dengan Aku, dalam kedatanganku segera.”
• Yesus berkata, “. . . bersama-sama dengan Aku” di mana?? Bukanlah sebuah tempat mistis yang menakutkan, bukan pula dalam purgatori, tetapi di dalam Firdaus. Apa itu Firdaus? Firdaus itu adalah surga itu sendiri.

Kita bayangkan, seorang penjahat kelas kakap dan pada saat detik-detik terakhir dalam hidupnya, permintaannya bukan hanya dikabulkan tetapi diberikan lebih dari yang dia minta, bagaimana perasaannya?? Saya yakin, bukan hanya perasaan senang biasa, atau kelegaan, tetapi sukacita yang tak terkatakan, sembari menangis haru bercampur aduk dalam luapan emosi di detik-detik terakhir hidupnya. Seorang penjahat yang pada awalnya tidak tahu setelah kematian akan berada di mana, tetapi setelah perkataan Yesus yang penuh pengharapan itu, penjahat ini jelas tujuannya adalah berada bersama Yesus di Surga.

Kita sebagai orang percaya mempunyai Allah yang hidup. Allah yang mengerti segala kebutuhan kita. Allah yang memahami segala kondisi yang kita alami. Allah mampu melakukan jauh lebih banyak dan jauh lebih besar dari apa yang kita bisa pikirkan sebagai manusia terbatas.

Kalau dalam rumah tangga, kita sedang bergumul soal ekonomi, ingatlah Tuhan sanggup melakukan jauh lebih besar dari apa yang kita minta. Ketika kita bergumul soal kesehatan, Dia Tuhan yang telah membawa serta segala penyakit kita di kayu salib, dan ingatlah bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh. Ketika kita bergumul dalam konflik antar pasangan, Dia Allah yang menggantikan perseteruan dengan kedamaian. Andalkan Dia selalu, karena Dia Allah yang tahu segala perkara kita, Dia tahu segala kesusahan kita, dan Dia Allah yang dapat melakukan yang tidak mungkin bagi kita, di dalam Dia ada jalan keluar

Thursday, July 8, 2010

BERDOA: MENGUBAH yang MUSTAHIL MENJADI NYATA (1 Sam. 1:1-28)


1. Hari ini saya akan membagikan kesaksian saya setelah sedemikian lama saya mengikut Tuhan. Satu dari banyak perbuatan Tuhan yang ajaib yang tidak dapat saya pikirkan dan saya duga, akan saya bagikan di sini.
2. Karena budaya kita berbeda maka dengan berat hati saya memberitahu saudara bahwa sebenarnya saya sudah mempunyai dua istri dan saya punya banyak anak. Istri pertama saya, dia mandul, gak punya anak. Waktu tahu dia mandul, saya malu sekali. Malu karena kehadiran anak sangat penting bagi ekonomi keluarga, sebab mereka ini adalah sumber penghasilan keluarga. Bisa saja saya ceraikan dia, tetapi saya memilih untuk tetap menjadikan dia sebagai istri saya, saya sayang banget sama dia. Dia juga akhirnya menginjinkan saya untuk mengambil perempuan lain untuk menjadi istri kedua saya, dan dari perempuan kedua ini saya punya banyak anak.
3. Itulah budaya saya. Kalo dalam budaya saudara, pemerintah menyarankan punya satu istri dan dua anak, maka dalam budaya saya, saya diperbolehkan punya istri lebih dari satu dan banyak sekali anak. Kata orang banyak anak banyak rejeki, dikit anak dikit rejeki. Nah, maka dari itu, saya punya banyak anak, supaya banyak rejeki. Tapi saya didik mereka untuk bekerja, sehingga nanti mereka bisa memelihara orang tuanya kalo sudah tua. Anak-anak ini juga sebagai penerus keturunan saya. Mereka ini penerus nama keluarga dan pewaris kekayaan saya.
4. Nah sekarang ini saya sudah punya satu anak yang sangat saya kasihi. Tuhan yang memberikannya kepada istri pertama saya. Begini ceritanya:
5. Waktu itu kami sekeluarga rutin pergi tiap tahun untuk berbakti kepada Allah. Saya, kedua istri, dan anak-anak saya pergi ke luar kota menghadap Tuhan. Tiap tahun istri pertama saya selalu menangis. Ia selalu bersedih hati, tidak mau makan karena selalu saja dihina, diejek oleh istri kedua saya. Saya tahu permasalahan utama dia adalah karena kemandulannya. Saya sebagai suami juga tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa berharap keberadaan saya ini cukup daripada banyak anak laki-laki.
6. Ketika kami sampai di Silo, seperti biasa istri tidak mau makan, sedih, lantaran ejekan istri kedua saya. Tetapi ada yang lain pada tahun itu. Selesai waktu kami makan dan minum, istri pertama saya pergi berdoa, dia menangis di hadapan Tuhan. Dia berdoa, menangis sambil bernazar kepada Tuhan. Katanya: TUHAN Yang Mahakuasa, perhatikanlah hamba-Mu ini! Lihatlah sengsara hamba. Ingatlah kepada hamba dan jangan lupakan hamba! Jika Engkau memberikan kepada hamba seorang anak laki-laki, hamba berjanji akan memberikan dia kepada-Mu seumur hidupnya (BIS).
7. Lihatlah! Ada tekanan yang hebat di dalam dirinya. Tekanan komunitas sosial, tekanan istri kedua saya, tekanan dari dirinya sendiri bahwa dirinya mandul, dan imampun mengatakan dia mabuk. Dalam beratnya tekanan yang dia derita, dia tidak menyerah pada situasi, tetapi dia berserah, dia sampaikan pergumulan hidup utamanya kepada Tuhan melalui dia berdoa. Istri saya adalah sosok perempuan yang tegar. Saya kira, saya tidak salah memilih dia menjadi istri saya, dan saya tidak menyesal saya mengasihi dia meskipun dia mandul. Barangkali si Peter itu akan mengikuti jejak saya.
8. Yang mengejutkan adalah setelah berdoa, wajahnya berseri-seri, seolah tidak ada beban lagi, dan dia mau makan. Kesusahannya tetaplah kesusahan, tetapi dia tidak mau terus berada di dalam kesusahan itu. Penyerahan di dalam doa adalah penyerahan totalitas hidup ke dalam kedaulatan Tuhan. Itulah sebabnya tidak perlu lagi kekuatiran, dan kesedihan itu berlarut-larut. Keesokan paginya kami kembali ke Rama.
9. Setahun kemudian setelah dia berdoa, akhirnya dia mengandung dan melahirkan anak laki-laki. Kami menamainya Samuel. Kalo di Alkitab ini artinya: Aku telah memintanya daripada Tuhan. Kalo di dalam bahasa Ibrani, kami mengartikannya dengan frasa “didengar Tuhan.” Ya kira-kira sama artinya. Istri saya meminta dari Tuhan, dan Tuhan mendengarkan doanya. Kelahiran Samuel bagi saya merupakan hadiah dari Tuhan. Inilah anak yang saya tunggu-tunggu dari istri yang sangat saya cintai.
10. Setelah lahirnya Samuel, saya dan keluarga mau pergi kembali untuk beribadah ke Silo, mempersembahkan korban sembelihan dan korban nazar. Tetapi istri saya gak ikut, katanya mau menunggu sampai Samuel tidak menyusu lagi. Saya menyetujuinya.
11. Dua atau tiga tahun kemudian, istri saya pergi untuk beribadah, sekaligus mempersembahkan korban lembu jantan pada Tuhan. Di bait Allah itu, istriku, Hana, menyerahkan juga Samuel (3 tahun) kepada Tuhan untuk bekerja dan melayani di Bait Suci. Istriku memenuhi nazarnya kepada Tuhan.
12. Dari peristiwa ini, ada begitu banyak berkat rohani yang saya terima. Saya merasa Tuhan membentuk saya dengan begitu luar biasa. Setelah semua ini terjadi, Dia mencoba memperlihatkan kepada saya dan dunia saat ini bahwa Dia Allah yang berkuasa atas segalanya.
13. Pada mula, ketika Dia menutup kandungan istri saya, Dia mau supaya saya belajar untuk tetap mengasihi dia, meskipun dia mandul dan begitu banyak orang mencelanya. Tuhan ingin saya belajar untuk mengasihi istri saya, menemani dia apapun keadaannya dan dalam segala kesusahannya.
14. Ketika Tuhan mengingat kesengsaraan istri saya dan kembali membuka kandungannya, lalu saya mendapat anak yang istimewa, saya belajar menyerahkannya kembali kepada Allah, mempersembahkan kepada Tuhan untuk Tuhan pakai menjadi alat Tuhan sendiri. Setelah saya mempersembahkan Samuel sebagai harta paling berharga di dalam hidup kami, Tuhan ternyata mengaruniakan lagi tiga anak laki-laki dan dua perempuan (2:21) kepada kami. Wow! Di sini saya belajar Dia adalah Tuhan yang tahu benar akan kebutuhan utama kebahagiaan keluarga saya. Ketika semuanya ini sudah terjadi, saya belajar di dalamnya, Dialah Tuhan yang merencanakan sesuatu yang besar, melahirkan seorang nabi/hamba Tuhan yang diperkenan Tuhan bagi bangsa kami.
15. Sebelum saya ke sini, saya ngobrol sama istri saya Hana, apa berkat yang kamu peroleh dari peristiwa ini. Dia menjawab: satu hal yang membuat dia sukacita adalah ketika Tuhan mendengar kesusahannya, Tuhan mendengar doanya, dan Dia mengabulkan permohonannya. Setelah dia menyerahkan anak yang ditunggu-tunggunya seumur hidup kepada Tuhan, sukacitanya menjadi sempurna, saat Tuhan ga cuma kasih Samuel saja, Tuhan kasih lagi 3 laki 2 perempuan pada kami. Bertahun-tahun dia menunggu, tetapi pada saatnya tiba, Tuhan memberi lebih dari apa yang dapat kami duga.
16. Demikianlah orang yang berserah pada Tuhan di dalam doa. Istri saya menjadi contoh nyata kebaikan dan kemurahan Tuhan. Dikala ada begitu banyak hal-hal yang kita rasa tidak mungkin terjadi, berserah dan berharaplah pada Tuhan. Di saat tidak ada lagi jalan keluar dari permasalahanmu, berlutut dan berdoa kepada Tuhan adalah satu-satunya yang bisa dilakukan. Bawa segala masalahmu di dalam doa. Dia akan bertindak secara ajaib di dalam hidup kita semua. Percayalah pada kuasa-Nya. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

*BERDOA: MENGUBAH yang MUSTAHIL MENJADI NYATA (1 Sam. 1:1-28)
**Telah disampaikan dalam bentuk khotbah, Minggu, 4 Juli 2010.

Monday, January 25, 2010

KELAHIRAN KRISTUS MEMBAWA DAMAI BAGI DUNIA


Nats Alkitab: 1Yoh. 4:7-16, Yoh. 1:1-14.
Tujuan: agar jemaat mengerti dalamnya kasih Allah kepada manusia, dan menebarkan kasih dan damai yang Allah bawa itu kepada sesama.


SS, ketika dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang bebal dan jahat karena status mereka yang jatuh di dalam dosa, Allah berinisiatif untuk mengadakan pendamaian kembali, rekonsiliasi dengan umat-Nya yang berdosa ini. Bahkan sejak pada zaman para nabi, Tuhan sudah memberitakan bahwa ada seorang Pribadi yang akan datang untuk membawa damai bagi dunia ini. Kedatangan Allah sendiri ini akan mengubah dunia yang penuh dengan kegelapan, menjadi terang. Perseteruan, perselisihan antara Allah dengan manusia, diubah menjadi pendamaian dan umat-Nya yang percaya kepada kedatangan Putra-Nya itu, dapat menjadi agen, saluran tangan Allah membawa damai bagi sesama.

Syukur kepada Allah, ketika pendamaian ini terjadi ketika Yesus datang ke dalam dunia ini sebagai manusia yang sama seperti kita. Suatu misteri, bagaimana Yesus lahir melalui seorang anak dara. Inilah inkarnasi, yakni Allah yang telah datang, lahir sebagai manusia. Di tengah keterbatasan kita untuk mengerti misteri inkarnasi ini, Alkitab menyatakan bahwa Allah telah ada di dalam dunia dan Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, dan itu semua Ia lakukan karena KASIH.

SS, di dalam keadaan sebagai manusia, natur Yesus diragukan. Masih saja ada orang yang mengatakan bahwa tubuh Yesus adalah tubuh yang semu. Mereka mengatakan bahwa tubuh Yesus adalah Roh yang kelihatan, dan karena Roh, maka Ia tidak dapat merasakan apa yang manusia rasakan. Alkitab menyatakan dengan jelas, bahwa Yesus dapat merasakan seperti apa yang manusia pada umumnya rasakan. Ia bisa lapar, Ia bisa marah, Ia bisa merasakan sakit, dan sampai di atas Salib, Ia tetap menunjukkan kemanusiaan-Nya dengan berkata,”Aku haus.” Jadi jelas, bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Yesus ini pula, yang diam dan tinggal di dunia dan melayani orang-orang berdosa.

SS, Yoh.1:14 mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya…. Apa arti kata-kata ini? Sulit sekali mengartikan ayat ini. Begitu banyak pertanyaan yang timbul, salah satunya adalah Mengapa Firman itu menjadi manusia, menjadi daging, menjadi serendah manusia dan tinggal di antara manusia?? Namun, di sinilah keunikan kristiani dan konsep LOGOS (Firman) di dalam Injil Yohanes. Inilah inti doktrin Inkarnasi. Dia yang sesungguhnya adalah Allah, benar-benar menjadi manusia, dan tinggal di antara kita. Sesudah ayat 14 ini, istilah Logos atau Firman sudah tidak muncul lagi di dalam Injil Yohanes. Mengapa bisa terjadi demikian?? Karena sang Logos sudah menjelma menjadi manusia, Yesus, orang Nazaret. Maka Yesus dan Firman adalah identik, sama. Namun tidak sampai di situ saja, sebab Yohanes menambahkan, “kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa . . . .” Kemuliaan yang ada dan diberikan kepada-Nya itulah sebagai indikasi atau tanda bahwa Dia benar-benar Anak Allah.

SS, sungguh luar biasa bagaimana Sang Firman menjelma menjadi manusia dan diam di antara kita. Sungguh luar biasa ketika Yohanes memperlihatkan bahwa Yesus itu sendiri adalah Allah dan diam tinggal bersama kita. Jika natur manusia Kristus tidak berasal dari sumber yang sama dengan kita, maka tidak ada hubungan antara kita dengan Dia untuk melihat bahwa tugas pengantara-Nya penting bagi kebaikan kita. Oleh karena Ia dilahirkan melalui manusia, sehingga Ia bisa menjadi pengantara kita kepada Bapa, karena Ia adalah sama-sama manusia seperti kita. Ketika Dia ada di antara kita sebagai manusia, Dia bisa merasakan sakit, lapar, letih dan haus sama seperti manusia pada umumnya. Dia mengambil bentuk manusia agar Dia bisa sepenuhnya merasakan penderitaan kita sebagai manusia. Dia memasuki situasi kita untuk bertindak sebagai penebus kita. Dia menjadi Pengganti kita, Dia menanggung dosa kita dan menderita menggantikan kita. Dia juga menjadi pendahulu kita, dengan memenuhi semua tuntutan hukum Allah atas nama kita. Semua itu terjadi ketika Allah menjadi sama dengan manusia.

SS, begitu besar karya Allah kepada manusia yang berdosa ini. Satu alasan utama yang bisa dikemukakan, mengapa Yesus masuk ke dalam dunia ini adalah karena KASIHNYA. Kasih Allah yang melebihi dosa dan kesalahan kita. Ia tidak melihat betapa banyak dosa yang kita buat, tetapi Allah tetap mau datang ke dalam dunia untuk membebaskan manusia dari dosa. Yesus rela digantung di atas kayu salib, dan murka Allah ditimpakan kepada Anak-Nya, itu semua demi kita.

SS, kalau kita melihat bagaimana Allah pada mulanya menciptakan dunia ini dengan begitu sempurna dan indah, tetapi manusia yang merusakkannya. Manusia telah berada di bawah dosa. Manusia menjadi terhilang. Manusia menjadi begitu kotor dan hina di hadapan Allah. Hubungan Allah dan manusia menjadi putus. Tetapi Allah pula yang berinisiatif memulai hubungan yang baik dengan umat-Nya, semata-mata karena KASIH. Allah tidak dapat menyangkali sifat-sifat ke-Allahannya, yakni KASIH. Karena itu, Allahlah yang mengirim Anaknya ke dalam dunia menjadi pengantara manusia dengan Allah. Tanpa Allah sendiri yang masuk ke dalam dunia, mustahil manusia bisa mencapai Allah dan mendapat keselamatan itu. Bagaikan seseorang yang masuk ke dalam lubang yang dalam, pertolongan harus datang dari atas. Tanpa ada pertolongan dari atas, tentu orang yang di dalam lubang tidak bisa keluar, tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Karena itu, supaya manusia selamat, pertolongan harus datang dari atas, dari Allah dan manusia yang menerima pertolongan itu akan selamat. Kristus, Allah yang menjadi manusia itu, membuatnya mungkin terjadi. Kelahirannya sebagai manusia, untuk membawa manusia mempunyai hubungan yang baik kembali dengan Allah.

SS, suatu hari seorang guru Sekolah Minggu memberi tugas kepada murid-muridnya, ”Seperti apa ALLAH Bapa itu? Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang papi.” ujar guru tersebut. Minggu berikutnya, sang guru menagih PR dari setiap murid. “Allah Bapa itu seperti dokter!” ujar seorang anak yg papanya adalah dokter. “Ia sanggup menyembuhkan penyakit seberat apapun !” “Allah Bapa seperti guru!,” ujar anak lain. “Dia selalu mengajarkan kita utk berbuat yg baik dan benar.” “Allah Bapa seperti hakim, Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi.” “Menurut aku, Allah Bapa itu seperti arsitek. Dia membangun rumah yg indah untuk kita di surga!” ucap seorang anak tidak mau kalah. “Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yg kita minta Dia punya!” ujar seorang anak konglomerat.
Guru tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan sosok Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yg sejak tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak-anak lain. “Eddy, menurut kamu Allah Bapa itu?” ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. Eddy hampir-hampir tidak dapat mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan ketika menjawab, “Ayah saya seorang pemulung....jadi saya pikir.....Allah Bapa itu seorang pemulung ulung.” Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. “Eddy,“ ujar ibu guru. “Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?” Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, “Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anak-NYA.”

SS, memang, bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya. Dia memungut sampah seperti kita dari kegelapan ke dalam terang. Dia memungut sampah seperti kita dari maut supaya kita hidup bersama Dia. Dia mengangkat kita dari seteru menjadi biji mata-Nya sendiri, bahkan menjadikan kita pewaris Kerajaan Allah.

SS, ketika Yesus lahir, itu berarti Allah sendiri yang bersedia menjadi pemulung, merendahkan diri-Nya, sampai sama seperti kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita. Kedatangan-Nya membuat kita memiliki hidup yang baru di dalam Tuhan. Hidup yang berbeban berat, akan Ia buat lega. Hidup yang penuh dukacita, akan Ia isi dengan sukacita. Orang yang lemah, akan Ia kuatkan. Orang yang sakit, Ia akan sembuhkan. Orang yang terluka, Ia akan pulihkan.

SS, Kristus lahir ke dalam dunia untuk mendatangkan damai dan sukacita. Ia lahir memperdamaikan hubungan antara Allah dan manusia. Kalau Ia memperdamaikan hubungan Allah dan manusia, itu juga berarti hubungan manusia dan manusia, Ia pulihkan. Kalau hubungan itu, Ia pulihkan, berarti tidak ada lagi marah, tidak ada lagi musuhan, tidak ada lagi perseteruan. Yang ada hanyalah damai.

SS, Matius 5:9 mengatakan, “Berbahagialah orang-orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Di dalam bahasa Yunaninya, pembawa damai itu juga bisa berarti penjaga relasi yang baik, atau penjaga perdamaian. Tidak hanya membawa, menyatakan damai, tetapi juga menjaga agar damai itu tetap ada di dalam dunia ini. Bagi orang-orang yang seperti ini, Allah sendiri telah menyediakan upah. Upahnya apa? Upahnya adalah mereka akan disebut anak-anak Allah. Atau kalau dalam BIS, Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya.

SS, itulah tugas kita sebagai orang percaya, menyatakan dan membawa damai yang telah Tuhan nyatakan juga ke dalam dunia ini. Masalahnya adalah sudahkah kita melakukannya?? Kita yang telah diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Yesus, sudahkah kita berdamai juga dengan sesama? Sudahkah kita mengampuni orang yang bersalah sama kita? Sudahkah kita mengasihi mereka?

SS, kalau saya suruh kita mengucapkan sama-sama Yoh.3:16, pasti hafal semua bukan? Kata “Kasih” dalam Yoh.3:16, sebenarnya bukanlah kata benda. Adalah mudah kalau kita memberikan cinta kita kepada orang lain. Maksud saya adalah memberikan cinta, dalam bentuk benda, atau sesuatu. Itu sangat mudah, kalau boleh dibilang. Tetapi “Kasih” di Yoh.3:16 adalah kata kerja. Bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Apakah kita dapat dengan mudah mengasihi orang yang menyakiti hati kita? Apakah kita dapat dengan mudah mengasihi orang yang telah melukai perasaan kita? Apakah kita dapat dengan mudah mengasihi orang yang mencelakakan kita? Apakah kita dapat mengampuni mereka?? 1 Yoh. 4:11, ayat yang tadi kita sudah baca, lakukanlah itu.

SS, kalau kita pikir-pikir, layakkah kita menerima pengampunan Tuhan?? Layakkah kita yang hari demi hari berbuat dosa ini, menerima kasih Tuhan?? Tidak ada yang merasa layak, tetapi itulah Anugerah. Allah berinisiatif mengampuni dan mendamaikan kita. Sekarang apa tugas kita? Mari kita mulai berinisiatif mengasihi, mengampuni, dan menyatakan damai kepada orang lain, karena Tuhan telah terlebih dahulu melakukannya.

SS, ingatlah akan Natal, di mana bayi Yesus ada di dalam palungan, di kandang domba yang kotor, yang hina. Dan hati kita tidak lebih bersih dari kandang domba itu. Ke dalam dunia yang gelap ini, Yesus datang untuk membawa terang, Yesus datang membawa damai. Sudahkah kita membawa damai itu dan menyatakannya bagi setiap orang? Sudahkah kita membawa damai itu ke tengah keluarga kita? Sudahkah kita membawa damai itu ke tempat di mana kita bekerja? Sudahkah kita membawa damai itu ke dalam komunitas atau lingkungan sekitar kita? SS, satu obor bisa menyalakan ribuan obor lainnya, tanpa kekurangan terangnya, demikian juga Kasih dan damai yang kita terima dari Tuhan, tidak akan berkurang bila kita bagikan pada sesama. AMIN.

Friday, September 11, 2009

WALK WITH GOD #2 (Kejadian 5:21-24)



2. Hidup yang bergaul dengan Allah adalah hidup yang berkenan kepada Allah
Mengapa Henokh dikatakan berkenan kepada Allah seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:5? Mari kita perhatikan Yudas ayat 14-16.
BIS, dalam Yudas 14-16, menjelaskan tentang nubuat Henokh. Dari nubuat yang diberitakan oleh Henokh ini, kita bisa mengetahui bagaimana latar belakang suasana waktu Henokh hidup dan apa yang ia lakukan pada waktu itu. Situasi yang terjadi adalah suasana zaman yang penuh dengan kebusukan. Dalam ayat 16 Yudas mengemukakan beberapa watak dari orang fasik: mereka penggerutu, mereka senantiasa tidak puas dengan kehidupan yang Allah berikan kepada mereka. Peristiwa ini seperti halnya dengan bangsa Israel yang bersungut-sungut atas ketidakpuasan di padang gurun, dan akhirnya menyalahkan Allah yang menyediakan nasib buruk kepada mereka. Kemudian sifat lain, mulut mereka mengeluarkan perkataan yang bukan-bukan, yang artinya mereka suka menghujat Tuhan. Dan terakhir, mereka suka menjilat orang untuk mendapat keuntungan, karena itu mereka bergaul dengan orang kaya.
BIS, Henokh hidup sejaman dengan orang-orang fasik. Namun, Henokh tetap menjaga kesucian dirinya. Tidak itu saja, Henokh melakukan pemberitaan tentang Allah. Henokh mampu untuk tidak terpengaruh suasana zamannya, ia tidak berkompromi dengan dosa. Hidup Henokh berbeda dengan situasi zaman itu. Sekalipun Henokh memberitakan tentang Allah, namun tidak ada indikasi pemberitaan dan teladan hidup Henokh efektif sehingga orang-orang fasik itu bertobat dan berpaling pada Allah. Yang jelas adalah Henokh memberitakan tentang Allah dengan setia.
BIS, di tengah dunia yang tidak ideal, Henokh tetap menjaga hatinya. Henokh menjaga integritasnya di hadapan Tuhan. Sebagai keturunan ke-7 dari Adam, leluhurnya yang memberontak kepada Allah, sesungguhnya Henokh tidak terlepas dari kecenderungan untuk memberontak juga kepada Allah. Namun, oleh imannya Henokh justru hidup bergaul dengan Allah, dan diperdamaikan dengan Allah.
BIS, saya yakin hal ini menjadi suatu pergumulan berat bagi Henokh. Allah berkenan kepada Henokh karena imannya tidak hanya ditetapkan pada sesuatu yang ia rasakan di dalam hati, tetapi juga pada apa yang diekspresikan melalui bibir mulutnya serta diejawantahkan pula melalui kehidupannya setiap hari.
Dalam bagian lain di Kitab Kej. 6:9 Alkitab memberi kesaksian tentang Nuh yang hidupnya juga bergaul dengan Allah, demikian: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya.” Inilah seharusnya menjadi kualitas kita sebagai hamba-hamba Tuhan, hidup benar dan tidak bercela di antara generasi kita.
BIS, mata-mata jemaat memandang kita dengan sejuta harapan untuk mengarahkan mereka pada jalan kebenaran itu. Mereka memandang kita sebagai sosok yang patut diteladani. Bersyukurlah kalau harapan mereka menjadi kenyataan dalam diri kita yang dapat menginspirasi dan menantang mereka untuk hidup dalam kekudusan dan pengabdian serta pengorbanan Kristus yang terpancar melalui hidup kita. Namun sangat disayangkan bila sejuta harapan mereka itu kandas, karena sedang melihat diri kita yang tak ubahnya sama seperti orang-orang dunia ini.
BIS, apakah jemaat dan orang-orang yang mengenal kita sedang melihat dalam diri kita perbedaan yang sangat tajam dengan orang-orang yang hidup dalam generasi ini?
Apakah kita menunjukkan hidup yang sederhana ditengah-tengah zaman yang tamak dan rakus akan uang, harta, materi dan kekuasaan? Atau kita sama tamak dan rakusnya? Contoh sederhana, betapa mudahnya kita ditipu dan tergiur dengan undian dan tawaran bonus-bonus yang sedang ditawarkan oleh berbagai jenis produk atau provider atau yang lainnya.
Apakah kita menunjukkan hidup yang berkemenangan ditengah-tengah zaman yang sedang bergelimpangan dan bergelimang dosa seksual baik berupa pornogarafi, imajinasi kotor, masturbasi, percabulan, perzinahan, perselingkuhan, homoseksual dan kecemaran lainnya?
Apakah kita menunjukkan hidup yang berdedikasi, pengabdian serta pengorbanan yang tinggi ditengah-tengah zaman kita yang serba instan, mau enak sendiri, tidak bertanggungjawab, segera dapat ladang yang menjamin masa depan tanpa perjuangan yang tinggi?
Apakah kita menunjukkan hidup yang menikmati relasi pribadi dengan Allah yang intim ditengah-tengah zaman yang lebih mengejar penguasaan teknologi dan informasi? Apakah kita punya waktu untuk duduk diam dan tenang merenungkan Firman-Nya dan berdoa?
BIS, mata-mata mereka sedang memandang dan menantikan hidup seperti itu terpancar melalui diri kita. Apakah kita sedang menunjukkan perbedaaan yang tajam tersebut?
BIS, Tuhan Yesus memberikan suatu teladan hidup yang sungguh-sungguh bergantung pada Bapa-Nya, menikmati persekutuan dengan Bapa-Nya dan hidup menantang dunia ini dengan kebenaran dan kesucian.
Biarlah hidup kita mengalami relasi yang dalam dengan DIA dan berkenan kepada-Nya. Dan biarlah jemaat dan orang-orang yang mengenal kita dapat melihat perbedaan yang nyata dari hidup kita, dan mereka akan terinspirasi untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Biarlah generasi ini boleh menikmati dan mengutamakan Allah. Biarlah generasi ini boleh kembali dalam kehangatan Cinta dan Kasih-Nya.

AMIN

wayyithallek ‘eth-ha’elohim

WALK WITH GOD #1 (Kejadian 5:21-24)




BIS, cerita tentang Henokh ini adalah sebuah cerita yang unik. Unik karena di dalam cerita Henokh terdapat bentuk yang lain dari ayat-ayat sebelumnya; paragraf tentang Henokh ini membuat bentuk perikop yang monoton seolah terputus. Dua pernyataan diperlihatkan secara berbeda. Yang pertama, kita diberi tahu bahwa Henokh “hidup bergaul dengan Allah”, dan yang kedua adalah pernyataan “lalu ia mati” tidak muncul lagi tetapi muncul pernyataan, “lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah”.

BIS, setelah beberapa ayat menjelaskan tentang keturunan Adam, dan Set, dan dijabarkan bahwa keturunan mereka mengalami kematian akibat dosa yang Adam lakukan, selanjutnya tiba pada saat Henokh hidup, Henokh tidak mengalami kematian. Satu orang yang memecahkan pola siklus kematian. Ibrani 11:5 mengatakan bahwa Henokh diangkat Allah karena iman. Iman Henokh yang percaya kepada Allah bahwa Allah itu ada, dan karena itu Henokh berkenan di hadapan Allah.

BIS, pagi ini kita akan belajar dari Henokh bagaimana sebenarnya hidup yang bergaul dengan Allah itu?

1. Hidup bergaul dengan Allah adalah hidup yang terus menerus berjalan dengan Allah dalam iman.

BIS, kata “bergaul dengan Allah” diulangi sebanyak dua kali dalam paragraf ini. Frasa “bergaul dengan Allah” (wayyithallek ‘eth-ha’elohim) memiliki bentuk Hithpael Imperfek, yang berarti Henokh hidup berjalan bersama Allah secara terus menerus. Ini berarti selama 365 tahun Henokh hidup, dia selalu berjalan dengan Allah. Seseorang tidak dapat berjalan bersama Allah, kecuali pertama-tama ia datang kepada Allah dengan iman. Dan dalam Ibrani 11:5, secara jelas mengatakan bahwa Henokh diangkat oleh Allah adalah karena imannya kepada Allah.

BIS, dalam kitab Ibrani, iman diartikan sebagai kemampuan memahami kenyataan dunia Allah yang tidak kelihatan dan menjadikannya sebagai objek utama kehidupan seseorang. G. E. Ladd dalam Teologi PB, mengemukakan bahwa iman adalah sesuatu yang membuat dunia Allah yang tidak kelihatan itu menjadi nyata kepada orang percaya. Serta menurut Charles C. Ryrie dalam Biblical Theology of The New Testament mengungkapkan bahwa iman yang sebagaimana dideskripsikan oleh penulis kitab Ibrani, memberikan bahan pikiran kepada pengharapan dan dengan cara yang jelas, membuktikan realita untuk berpikir mengenai hal-hal yang tidak kelihatan. Iman tidak menciptakan sesuatu di dalam dunia yang tidak terlihat, tetapi iman menjamin realita keberadaan mereka.

BIS, Henokh memiliki iman sehingga ia bisa melihat Allah yang tidak kelihatan itu menjadi nyata dalam hidupnya, dan memberi kesaksian bagi kita sekarang ini. Iman yang dimiliki Henokh diteruskan hingga ia mempunyai sebuah komitmen atau janji yang mendasari seluruh perjalanan hidupnya dengan Allah. Dalam Amos 3:3, “Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum berjanji?” atau dalam terjemahan bahasa Mandarin, berbunyi, “Bagaimana mungkin dua orang berjalan bersama-sama bila mereka tidak sehati?” Jadi, jelaslah bagi kita bahwa dua orang tidak dapat sungguh-sungguh berjalan bersama dalam persekutuan yang manis, kecuali mereka saling akur. Maka, syarat mutlak untuk berjalan bersama adalah ada suatu harmoni, ada kesehatian diantara mereka.

BIS, kita semua punya dua kaki kan? Apakah ada yang punya lebih dari dua kaki? Kalau kita jalan kan seirama, satu-demi satu maju, seirama. Tapi, bagaimana kalau jalan kaki kanan pengennya ke kanan terus, lalu kaki kiri maunya ke kiri terus? Bisakah berjalan dengan normal? Saya kira tidak akan bisa. Maka dari itu, kaki pun harus bisa berjalan seirama, seharmoni. Syarat ini juga nampak dalam hubungan antara Allah dengan Nuh, (6:9), dan juga Abraham (17:1), di mana keduanya disebut juga orang yang hidup bergaul serta tak bercela di hadapan Allah.

BIS, sambil melihat kejadian yang serupa dengan Elia yang mengalami pengangkatan dalam 2 Rj. 2:3, juga beralasan jika kita berpendapat bahwa dalam diri Henokh terdapat sebuah figur atau sosok yang sama dengan Elia. Dan jika demikian, wayyithallek ‘eth-ha’elohim dapat berarti lebih dari sekedar “hidup menyenangkan Tuhan,” tetapi hal ini juga berarti “intimate companionship with God,” sebuah persahabatan yang mendalam dengan Allah.

BIS, sebuah persahabatan pasti ada faktor kesehatian di dalamnya. Kalau tidak sehati, berarti bukan dinamakan sebuah persahabatan. Sebuah persahabatan yang mendalam berarti relasi persahabatan yang mengenal keseluruhan individu tersebut. Dalam kuliah perdana kelas terapi keluarga, Pak Paul Gunadi mengutip perkataan C. S Lewis, demikian, “Kasih yang benar adalah kasih yang menuntut orang lain menjadi lebih baik.” Kemudian Pak Paul juga mengatakan bahwa kasih Agape adalah kasih yang menerima yang terburuk, serta menuntut yang tertinggi dari padanya. Tuntutan yang diberikan bukan dengan maksud jahat, tetapi dengan maksud untuk kebaikan orang yang dituntut itu sendiri. Allah telah mengasihi kita dengan kasih Agape; Dia mengampuni kita sampai serendah-rendahnya, tetapi Dia juga menuntut setinggi-tingginya dari kita.

BIS, apa yang menjadi tuntutan Allah? Dalam Mikha 6:8 (buka dan bacakan), berbicara tentang tuntutan Allah agar manusia mau “melakukan keadilan” dan “mencintai kesetiaan.” Ayat ini berisi tentang aturan hidup yang singkat tetapi padat. Siapapun yang ingin berjalan bersama dengan Allah harus melakukannya dengan rendah hati. Berjalan dengan rendah hati bersama dengan Allah sambil melakukan keadilan dan kesetiaan, itu berarti membuat Allah menjadi pusat dari kehidupan manusia. Henokh berhasil melakukan tuntutan Allah itu dengan setia. Dia bisa membangun persahabatan dengan Tuhan, dia bisa hidup harmonis dan sehati dengan Tuhan, dia bisa setia sampai Tuhan mau angkat dia. Semuanya karena imannya kepada Tuhan. Ia tidak mungkin berjalan bersama Allah selama 365 tahun tanpa mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah selama itu.

Harold Kushner mengatakan, “Manusia modern sedang memadamkan api suci, mereka sedang memperlebar ruang hati mereka untuk manusia, dan mempersempit ruang untuk Allah. Bukannya hidup manusia lebih baik tetapi lebih buruk.” BIS, inilah gambaran kita manusia yang hidup pada masa ini. Kita lebih mengejar kasih dan perhatian manusia daripada kasih setia Allah, padahal itu suatu yang fana. Inilah gambaran hidup manusia pada masa kini yang lebih mengejar harga diri, prestige, harta duniawi demi kebanggaan diri daripada mengejar karakter yang semakin serupa dengan Bapa kita. Kita sedang menginvestasikan waktu, pikiran, tenaga, harta untuk pemuasan keinginan kita sesaat, mengejar penghargaan serta penerimaan manusia. Tetapi sebenarnya kita malah kehilangan sesuatu yang sangat berharga yaitu kedamaian, sukacita, pengharapan dan kebahagiaan yang terus mengalir bagai sungai yang tidak berhenti mengalir. Kita kehilangan esensi hidup yang sesungguhnya, yaitu mengalami keintiman dengan Allah, mengalami kejutan-kejutan hidup dalam pengalaman bersama Allah yang tidak dapat diukur dengan logika dan nalar manusia. Kita kehilangan banyak suara hati Allah yang ingin Ia bisikkan untuk melembutkan dan memberi kedalaman hidup bagi kita. Kita kehilangan kesempatan mengalami hidup yang bermakna dan menjadi alat yang mulia di tangan Tuhan untuk menjadi saksi yang menggetarkan dunia dan generasi ini, dengan Cinta dan Kuasa-Nya yang memulihkan dan memperbaharui.

BIS, bagaimanakah relasi kita dengan Tuhan? Apakah kita yang sedang menjalani panggilan sebagai hamba Tuhan sudah dapat dikatakan seorang yang bergaul akrab dengan Allah? Apakah kita sedang menjalani hari-hari kita dengan keintiman relasi yang terus menakjubkan kita dalam pengalaman nyata akan anugerah-Nya tiap-tiap hari? Betapa ironinya BIS, bila kita yang seharusnya jadi contoh dan teladan orang-orang yang bergaul dengan Allah malah kita sedang jauh dari keintiman itu dan sedang intim pada sesuatu yang lain.

BIS,

o Mungkin saat ini Tuhan mengatakan pada kita, stop sms-anmu, stop habisin bonus sms mu, karena Aku punya kata-kata yang lebih menarik dan bermutu dari sms-anmu yang dangkal itu.

o Mungkin Tuhan mau berkata, stop nelpon pacarmu atau relasimu yang lain yang berjam-jam itu, Aku ingin bicara kepadamu anakku. Aku ingin bicara tentang apa yang paling penting dan bermakna dalam hidupmu. Bukan pembicaraan yang sekedar untuk memuaskan kesepian dan keinginanmu untuk diperhatikan dan dikasihi. Aku ingin berbicara dalam kedalaman makna hidup kepadamu.

o Mungkin Tuhan mau berkata, Stop jalan-jalanmu dari mal ke mal, dan refreshingmu yang berlebihan itu, karena Aku punya pemandangan yang menarik. Pemandangan yang melukiskan keindahan panorama dan keharuman Cinta-Ku.

o Mungkin Tuhan berkata, stop dulu bacaanmu, komik, novel, Koran dan buku-buku lainnya yang telah menyita waktumu. Stop anakku, Aku ingin kamu baca isi hati-Ku. Aku ingin kamu mengerti kehendak-Ku dan melakukan-Nya.

o Mungkin Tuhan mau berkata, Stop impianmu yang muluk-muluk itu, Stop kejar kariermu. Aku punya rancangan yang sempurna bagimu. Aku mau menunjukkan jalan hidup yang terbaik bagimu.

BIS, kesetiaan kita pada Allah terlihat sampai sejauh mana kesediaan kita untuk memprioritaskan Tuhan dalam segala aspek hidup kita. Tuhan ingin kita setia hidup bergaul, berjalan dan bersahabat dengan Allah setiap hari. Itulah yang Tuhan mau. Mari kita berhenti sejenak dari segala rutinitas kita dan berpaling kepada-Nya, diam dalam hadirat-Nya. Biarkan Tuhan menyentuh hati kita dengan kehangatan kasih-Nya.