Menanggapi tulisan dari seorang teman (HTP) tentang kematian, maka saya juga akan membagikan sedikit pengalaman saya selama kurang lebih dua bulan di kota Sibolga ini. Selama saya pelayanan di Sibolga ini, ada beberapa kali saya melihat peristiwa kedukaan. Kebetulan dari beberapa yang saya lihat ini adalah kedukaan dari keluarga yang beragama Kristen. Menurut saya ini adalah peristiwa duka yang unik, dan belum pernah saya jumpai di Pulau Jawa. Mungkin karena faktor beda budaya, maka saya menyebutnya unik. Letak keunikan kedukaan ini ada pada lagu-lagu atau nyanyian yang mereka pakai pada kedukaan tersebut. Lagu-lagu yang mereka pakai adalah nyanyian atau lagu yang riang gembira. Entah itu lagu sekuler, atau lagu rohani yang biasa diambil dari KJ (Kidung Jemaat), atau lagu rohani daerah yang saya tidak tahu bahasanya, nada-nada yang dimainkan adalah nada-nada yang riang. Keunikan lainnya ada pada pakaian para pelayat yang hadir dalam kedukaan tersebut. Mereka memakai selendang Ulos (khas tanah Batak), dan juga kebaya. Dan pakaian yang para pelayat pakai ini menurut saya adalah pakaian yang meriah; dengan warna yang cerah, motif yang meriah. Dua keunikan inilah yang saya perhatikan pada peristiwa kedukaan di sini. Namun, yang membuat saya paling merasa tidak nyaman adalah pada lagu-lagu nyanyian yang mereka lantunkan.
Beberapa kali saya menemukan peristiwa kedukaan yang serupa, mendorong saya untuk bertanya, mengapa mereka melantunkan lagu-lagu dengan nada riang gembira?? Bukankah seharusnya sedih, meratap, dan menangisi jenazah keluarga mereka?? Apa maksudnya dengan semua ini?? Apakah budaya setempat yang mempengaruhi??
Dalam ketidakmengertian saya, saya bertanya kepada Ibu pendeta. Ibu pendeta menjelaskan bahwa kita bisa mengetahui yang meninggal itu umur berapa adalah dari lagu-lagu yang dinyanyikan. Dan dalam hal ini, jika lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang riang gembira dan meriah, berarti yang meninggal sudah cukup tua. Menurut mereka, adalah suatu sukacita dan bahagia apabila ada satu anggota keluarga mereka yang mendapat umur panjang dari Tuhan. Karena itu, kematian bagi mereka yang berumur cukup tua harus juga disyukuri, dirayakan dengan riang gembira, dan bukan dengan sedih hati.
Selama ini saya berpikir bahwa musik, lagu dan nyanyian riang itu adalah karena keyakinan para anggota keluarga bahwa orang yang meninggal tersebut sudah pasti ke Surga. Ternyata dugaan saya salah. Suasana sukacita, riang gembira hanyalah karena orang meninggal tersebut, hidup lama dan berumur panjang di dunia ini. Sukacita dan bahagia dikarenakan umur panjang, dan hidup yang lama.
Melalui hal ini saya berefleksi dan merenung, bukankah seharusnya rasa bahagia dan bersukacita itu dirasakan ketika yakin salah satu anggota keluarga ada bersama-sama dengan Yesus di Surga?? Di dalam kedukaan di atas, sepertinya terlihat yang mereka pedulikan hanyalah umur panjang dari salah satu anggota keluarga, dan atasnya mereka berbahagia serta bersukacita. Memang itulah yang terjadi. Mereka berbahagia dan bersukacita hanya dikarenakan orang yang mereka kasihi dan cintai memiliki umur panjang.
Mereka seolah tidak mau tahu dan tidak peduli, apakah orang yang meninggal tersebut sudah mengenal Yesus?? Yang jelas ada di pikiran mereka adalah orang yang saya kasihi dan yang telah meninggal ini telah memiliki umur panjang, dan karena itu saya bersukacita.
Hhmm, jelaslah sekarang mungkin ini bagian dari tradisi yang terus menerus terjadi. Entah dari mana datangnya pemikiran seperti ini. Apakah ada faktor budaya suku setempat yang mempengaruhi?? Entahlah, saya tidak bisa lebih jauh memikirkannya. Bagaimana gereja setempat menyikapinya?? Entahlah, saya kurang tahu kebijakan gereja suku setempat menyikapi situasi yang sudah menjadi tradisi ini.
Thursday, January 7, 2010
Monday, December 21, 2009
CHRISTMAS PRAYER FOR ALL PEOPLE


Tak terasa Natal hanya tinggal beberapa hari saja. Begitu banyak persiapan yang gereja lakukan menyambut Natal ini. Kesibukan yang melanda tak sadar membuat kita lupa meluangkan waktu untuk berdoa, bukan hanya berdoa bagi persiapan Natal itu sendiri, namun berdoa agar Kristus juga lahir ke dalam hati mereka yang tertimpa oleh kemalangan, bukan hanya secara lahir tetapi juga batin.
Ketika saya membaca sebuah buku doa, berjudul A Book of Reformed Prayer (Louisville: Westminster John Knox, 1998), saya mendapati satu doa yang dinaikkan pada abad 20 oleh seorang teolog besar, Karl Barth (1886-1968), demikian:
O, Lord, our God, when we are afraid do not let us despair. When we are disappointed do not let us become bitter. When we fall do not let us remain prostrate. When we are at the end of our understanding and our power, do not let us then perish. No, let us feelthe Thy nearness and Thy love, which Thou hast promised especially to those whose heart are humble and broken and who stand in fear before Thy word. To all men Thy Son has come as to those who are beset. Indeed, because we are all so beset he was born in a stable and die on a cross. Lord, awaken us all and keep us all awake to this knowledge and to this confession.
And now we think of all the darkness and suffering of this our time; . . . of all the burdens that so many must bear uncomforted . . . . We think of the sick and the sick in spirit, the poor, the displaced, the oppressed, those who suffer injustice, the children who have no parents or no proper parents. And we think of all who are called to help . . . the judges and officials, the teachers and leaders of youth, the men and women who are responsible for writing books and newspapers, the doctors and nurse in the hospitals, those who proclaims Thy word in the various churches and congregations near at hand and far away. We think of them all with the petition that the light of Christmas may shine brightly for them and for us, much more brightly than before, that thereby they and we may be helped. We ask all this in the name of the Savior in whom Thou hast already heard us and wilt hear us again and again. Amen.
Thursday, November 5, 2009
Tikus
Para sarjana menggunakan tikus sebagai uji coba dari penelitian mereka, dan pada akhirnya terkagum-kagum dengan penemuan mereka. Mereka memilih dua ekor tikus yang punya dua ciri yang sama. Mereka mengambil salah satu daripadanya dan menaruhnya ke dalam sebuah bak air yang besar. Tidak ada jalan bagi tikus itu untuk bisa naik dari dinding bak untuk keluar. Mereka ingin melihat berapa lamakah tikus itu dapat bertahan berenang di dalam air bak itu sebelum akhirnya mati tenggelam. Percobaan ini dilakukan mutlak tanpa adanya cahaya lampu, sama sekali dalam keadaan gelap gulita. Kemudian, bagaimana hasilnya?? Kenyataannya mereka tidak perlu menunggu lebih lama. Hanya dalam waktu tujuh menit tepat, tikus itu menyerah dan mati lemas.
Sekarang, mereka mengambil tikus kedua, dan menaruhnya ke dalam bak yang sama. Akan tetapi, kali ini mereka biarkan ada sedikit cahaya lampu bersinar ke atas permukaan air bak. Tikus itu berenang-renang dan terus berenang, sampai setelah 36 jam, tikus itu menyerah dan mati lemas.
Keadaan gelap gulita mutlak membuat kita mudah menyerah dan hilang pengharapan. Yesus berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12, 9:5). Yesus mengatakan hal ini, di dalam konteks Yesus menyembuhkan seorang buta. Seorang buta, yang tiada pengharapan, yang hidupnya selalu mengemis (9:8), karena itu ia membutuhkan orang lain. Hidup dalam gelap gulita, tanpa pengharapan, ia membutuhkan lebih dari sekedar uang atau makanan untuk menyambung hidup. Datanglah Yesus, yang mampu mencelikkan dia, menerangi dia, membuat hidupnya menjadi berpengharapan. Yesus mengerti dan memenuhi kebutuhan utamanya. Celiknya orang buta ini tidak hanya membawa pengharapan baru bagi orang ini, tetapi ia pun sekarang mengenal Yesus dan percaya kepada-Nya (9:38). Praise God!!
Sekarang, mereka mengambil tikus kedua, dan menaruhnya ke dalam bak yang sama. Akan tetapi, kali ini mereka biarkan ada sedikit cahaya lampu bersinar ke atas permukaan air bak. Tikus itu berenang-renang dan terus berenang, sampai setelah 36 jam, tikus itu menyerah dan mati lemas.
Keadaan gelap gulita mutlak membuat kita mudah menyerah dan hilang pengharapan. Yesus berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12, 9:5). Yesus mengatakan hal ini, di dalam konteks Yesus menyembuhkan seorang buta. Seorang buta, yang tiada pengharapan, yang hidupnya selalu mengemis (9:8), karena itu ia membutuhkan orang lain. Hidup dalam gelap gulita, tanpa pengharapan, ia membutuhkan lebih dari sekedar uang atau makanan untuk menyambung hidup. Datanglah Yesus, yang mampu mencelikkan dia, menerangi dia, membuat hidupnya menjadi berpengharapan. Yesus mengerti dan memenuhi kebutuhan utamanya. Celiknya orang buta ini tidak hanya membawa pengharapan baru bagi orang ini, tetapi ia pun sekarang mengenal Yesus dan percaya kepada-Nya (9:38). Praise God!!
Pengalaman Unik di Sibolga (part 2)
Hari Senin, 2 November, saya dan beberapa jemaat dan ibu pendeta makan pagi di sebuah rumah makan. Berikut percakapan antara saya, jemaat, dan pelayan:
Pelayan: mau minum apa, Pak?
Peter: teh tawar hangat saja..
Pelayan: ?????? The tawar?? Gak ada teh tawar di sini.
Jemaat 1: Pak Peter, mau minum apa?
Peter: teh tawar hangat saja..
Jemaat 1: air putih hangat??
Peter: ???? teh tawar hangat, bu..
Jemaat 1: Oh, air bubuk?? The tong??
Peter: ???? (semakin bingung). Air bubuk?? Teh tong??
Jemaat 1: Teh tawar hangat kan??
Peter: Iya.
Jemaat 1: Ya udah, mbak, teh tong saja 4 gelas.
Peter: Oh, di sini kalo bilang teh tawar hangat itu teh tong ya, bu??
Jemaat 1: Iya.
Peter: Oh, jadi kalo bilang teh tawar hangat tuh artinya apa?
Jemaat 1: itu air putih hangat.
Peter: Oh, pantes. (dalam hati: pantesan hari jumat gw dikasih air putih hangat).
Jemaat 2: kalo teh manis hangat??
Jemaat 1: ya sama, teh manis hangat.
Peter: (dalam hati: yah, memang jika kita memasuki konteks budaya yang baru, mau tidak mau membuat kita belajar budaya setempat, kalo kita gak mau dicap sebagai orang aneh.)
Pelayan: mau minum apa, Pak?
Peter: teh tawar hangat saja..
Pelayan: ?????? The tawar?? Gak ada teh tawar di sini.
Jemaat 1: Pak Peter, mau minum apa?
Peter: teh tawar hangat saja..
Jemaat 1: air putih hangat??
Peter: ???? teh tawar hangat, bu..
Jemaat 1: Oh, air bubuk?? The tong??
Peter: ???? (semakin bingung). Air bubuk?? Teh tong??
Jemaat 1: Teh tawar hangat kan??
Peter: Iya.
Jemaat 1: Ya udah, mbak, teh tong saja 4 gelas.
Peter: Oh, di sini kalo bilang teh tawar hangat itu teh tong ya, bu??
Jemaat 1: Iya.
Peter: Oh, jadi kalo bilang teh tawar hangat tuh artinya apa?
Jemaat 1: itu air putih hangat.
Peter: Oh, pantes. (dalam hati: pantesan hari jumat gw dikasih air putih hangat).
Jemaat 2: kalo teh manis hangat??
Jemaat 1: ya sama, teh manis hangat.
Peter: (dalam hati: yah, memang jika kita memasuki konteks budaya yang baru, mau tidak mau membuat kita belajar budaya setempat, kalo kita gak mau dicap sebagai orang aneh.)
Pengalaman Unik di Sibolga
Hari pertama sampai di Sibolga, Jumat, 30 Oktober 2009, sarapan pagi bersama ibu pendeta. Seperti biasa, seorang pelayan datang untuk menanyakan menu makanan yang dipesan. Berikut adalah perbincangan antara pembeli dan pelayan:
Pelayan: mau makan apa, Pak??
Peter: nasi goreng aja deh (makanan favorit)…
Ibu pendeta: sama deh, jadi pesen dua ya..
Pelayan: minumnya??
Peter: teh tawar hangat aja...
Ibu pendeta: ???? teh tawar?? Ya udah, air putih hangat saja dua..
Peter: ????
Pelayan: Ok..
Setelah beberapa saat kemudian, pelayan datang sambil membawa nasi goreng dan air putih hangat.
Peter: (sambil makan, sambil bertanya-tanya, apakah di Sibolga gak ada teh??)
Pelayan: mau makan apa, Pak??
Peter: nasi goreng aja deh (makanan favorit)…
Ibu pendeta: sama deh, jadi pesen dua ya..
Pelayan: minumnya??
Peter: teh tawar hangat aja...
Ibu pendeta: ???? teh tawar?? Ya udah, air putih hangat saja dua..
Peter: ????
Pelayan: Ok..
Setelah beberapa saat kemudian, pelayan datang sambil membawa nasi goreng dan air putih hangat.
Peter: (sambil makan, sambil bertanya-tanya, apakah di Sibolga gak ada teh??)
Subscribe to:
Posts (Atom)