Saturday, May 8, 2010

Popularity Contest??


The Christian life is not a popularity contest! Following Jesus' example, we should share the Gospel with the poor, immoral, lonely, and outcast, not just the rich, moral, popular, and powerful.

IN HIS LIGHT, WE MAY SEE LIGHT



Oh Thou who dwellest in the light that is unapproachable and full of glory, who is in the fullest of time didst send Thy Son who is the light of the world, in His light may we see light clearly. In His light may we see the majesty of Thy being and the graciousness of Thy purpose. In His light may we see our world and understand it, in this the time in which our lot is cast.
To that end bless us as we assemble together here seeking Thy light upon our work. Graciously grant, O Lord of light and glory, that this journal may ever be loyal to Thy truth and to Thy gracious purpose for the world, and may it too be ever relevant to the time in which we live and to its challenge. May the Holy Spirit of truth lead us into all truth. And may the grace of our Lord Jesus Christ, who is light and live and the way to both, graciously grant us a sense of His luminous presence that we may truly guided in all our deliberations, whether to analyze or decide, whether to explore Thy will or to be challenged by human need, in the name of Him who taught us to pray when we say: Our Father, who art in Heaven . . .

John A. Mackay (1889-1983). This prayer was offered by Dr. Mackay as president emeritus of Princeton Theological Seminary and honorary chairman of the Editorial Council of Theology Today at its meeting in Princeton on April 14, 1961. The motto of the journal at the time and until 1990, given to it by Dr. Mackay, was “Our Life in God’s Light.”

Dikutip dari A book of Reformed Prayers, (Louisville: Westminster John Knox Press, 1998) 116.

Blossom Flower


Just as the flower can never blossom when it never sees the sunlight, so our lives can never flower with the grace and beauty they ought to have until they are irradiated with the light of the presence of Jesus.
Barclay, William, Daily Study Bible Series: The Gospel of John - Volume 2 Chapters 8-21 (Revised Edition), (Louisville, KY: Westminster John Knox Press) 2000, c1975.

Wednesday, February 10, 2010

MISI

Misi adalah keseluruhan gaya hidup Kristiani, termasuk di dalamnya tanggung jawab pemberitaan Injil maupun tanggung jawab sosial, dengan didominasi oleh keyakinan bahwa Kristus mengutus kita ke dalam dunia sebagaimana Sang Bapa telah mengutus Dia ke dalam dunia, dan bahwa karena itu kita harus pergi ke dalam dunia - untuk hidup dan bekerja bagi Dia. - John Stott -

STATUS HAMBA TUHAN

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Rabu, saya menggoreng pisang dengan adonan tepung seperti yang layaknya dijual di pinggiran jalan raya. Hmm, asik, uenak tenan. Makanan murah, enak, dan sederhana. Tiba-tiba saja, pada saat menggoreng pisang di depan kuali, ingatanku kembali ke masa lalu kepada pengalaman pelayanan bersama saudara saya, Daniel Sihombing.

Kurang lebih setahun yang lalu, bersama saudara saya, Daniel, kami melayani di sebuah gereja di wilayah Kesamben, Blitar, Jawa Timur. Berangkat hari Sabtu sore dan kembali hari Minggu siang. Sabtu itu, kami disuguhi pohong (singkong goreng). Entah mungkin karena baru panen singkong di desa, sehingga persediaan singkong begitu banyak. Maka mulailah saya menggoreng singkong itu.

Nah, pada saat itu kebetulan ada anak dari seorang teman, bernama David. Pada saat menggoreng singkong tersebut, dia berkata, “Minta ya…” seraya mengambil singkong yang masih hangat di piring sebelahku. “Iya,” jawabku. Tidak lama kemudian, dia datang kembali, dan mengatakan hal yang sama, “Minta lagi ya..” “Iya” jawabku. Tetapi kemudian dia bertanya sesuatu hal yang mengejutkan kepadaku, “Kamu pembantu di sini ya??” Deg, kaget aku. “Apa maksud dari pertanyaan itu?” pikirku. Aku sudah biasa mendengar khotbah, bahwa pelayan Tuhan adalah hamba. Dan pembantu adalah padanan katanya. Sama seperti kacung, jongos, budak, dan yang setaranya (sambil mengingat perkataan Pak Paul Gunadi di kelas).

Begitu sepertinya aku tak terima dengan pertanyaan itu, seolah ingin berkata, “Bukan, aku bukan pembantu.” Apalagi pertanyaan itu keluar dari mulut seorang anak kecil, yang mungkin ada di pikirannya pembantu rumahan yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Akupun berpikir hal yang sama saat itu.

Namun, saat itu sepertinya pikiranku bergerak cepat, sehingga saya menjawabnya, “Ya, saya pembantu di sini.” Setelah saya menjawab pertanyaannya, dia pergi sambil membawa singkong gorengnya. Si David pergi, karena pertanyaannya terjawab sudah. Bagaimana dengan si Peter? Oh, ternyata, dia masih ada di depan tungku kayu api dengan singkong yang sedang digorengnya, namun pikirannya mulai tenang. Dalam hatiku, aku merenung, bukankah pembantu, hamba, budak, slave, jongos, kacung itu sama?? Sambil makan singkong goreng hangat itu, aku berkata di dalam hati, “Aku adalah pembantu Tuhan.”

Setelah itu, saya menceritakan semua ini kepada saudara saya. Satu hal yang saya ingat pada waktu itu, saudara saya juga menempatkan dirinya sama dengan posisi saya, dengan status pembantu. Nyata pada keesokan harinya, setelah kami melayani, dan hendak pulang ke Malang, Daniel pamit kepada David, “Pembantu pulang dulu ya… Dadah David.”

Thanks buat David, mengingatkanku akan statusku.

Soli Deo Gloria!