Wednesday, March 7, 2012

Aku Sayang Kamu


Jantungku terasa berdegup kencang. Dia akan segera melintas di depanku.”Wah, bagaimana ya penampilanku? Apakah rambutku masih rapi?” batinku seraya merapikan pakaian dan rambutku secara perlahan. “Hai!” Duh, manisnya senyum yang dia tebarkan, aku sampai tersedot dalam pusaran pesona yang dia tebarkan lewat lesung pipi yang menghias di pipinya. “Hai juga!” sebagai seorang gadis, aku berusaha menahan diriku dari pertanyaan lebih lanjut, padahal aku ingin tahu untuk apa dia ke sekolah sore begini.” Nungguin aku ya?” senyumnya nakal. “Hahhh? Gak kok, gak. Week…dasar cowok narsis.” Wajahku terasa hangat. “masa? Tapi kok jadi malu gitu? Hahahaha…gak kok, becanda. Udah, ayo jalan. Mau rapat OSIS kan?” Helbert menarik tanganku untuk berjalan ke ruang rapat.” Eh, tunggu dulu. Yakin amat sih kalo aku mau rapat? Trus tau dari mana kalo aku rapat? Emang kamu rapat juga? Seksi apa?” begitu banyak pertanyaan yang spontan terlempar keluar dari mulutku sedangkan dia hanya menjawab semua pertanyaanku dengan singkat “ nanti kamu juga akan tahu kok, Cyn” lagi-lagi dia tersenyum, mbencekno!

Rapat kali ini ku ikuti dengan tidak konsentrasi sama sekali, padahal aku sekretaris I. Akibatnya aku beberapa kali nampak seperti orang tulalit yang tak dapat merangkai kalimat notulen rapat, sampai teman-teman lain pada melihatku dengan pandangan aneh. Duh, malunya. Semua gara-gara Helbert yang ternyata salah satu koordinator acara Paskah SMU kami, jadi kali ini kami rapat bersama lengkap dengan semua koordinator. ”Kenapa aku baru tahu sekarang ya? Duh, kalo tahu sebelumnya kan paling tidak bisa persiapan mental.” Keluhku.

“Ya, rapat hari ini selesai. Kita minta Cynthia tolong tutup dalam doa.” Ketua OSIS mengakhiri rapat hari ini. “Cyn.. Cynthia… Cyn.. Kamu disuruh doa.” Agnes menyenggolku. “Hah?? Oh… Mari kita berdoa.” Cepat-cepat aku mengakhiri lamunanku. “Amin!” terdengar suara yang berbarengan mengakhiri doaku. “Fuih, lalai lagi deh. Malunya…” cepat-cepat aku membereskan berkas rapat dan tasku, lalu segera meninggalkan ruangan rapat. “Aow… Aduh!” langkahku terhenti karena kakiku tersandung kaki meja dan aku malah terjatuh dengan isi tas berhamburan. “Kamu gak pa pa? Sini, kubantu berdiri.” Ada tangan yang diulurkan untuk menolongku berdiri. Sepertinya aku mengenali tangan ini, dan… benar! Ketika aku menatap pemiliknya, dunia seakan berhenti berputar. Aku tenggelam dalam telaga bening yang menentramkan hatiku. Helbert! “Kenapa dia yang menolongku? Kenapa aku harus jatuh di depan dia? Gawat!! Gawat!!” Sebelum aku sempat menolak, tangannya sudah terlebih dahulu meraih tanganku dan menariknya perlahan sampai aku mampu berdiri. “Thank you ya!” ucapku pelan. “Never mind! Kamu pulang sendiri? Ayo, kuantar pulang aja.” Dia nampak serius dengan perkataannya. “Oh, Tuhan… Benarkah? Mimpikah ini?” hampir tak percaya aku mendengar ajakannya, dalam hatiku berteriak senang, akan tetapi yang keluar dari mulutku adalah ”Thank you ya, gak pa-pa. aku masih bisa pulang sendiri kok. Nggak enak merepotin kamu.” Aku berbalik dan melangkah meninggalkannya. Dengan pelan aku menyusuri koridor kelas karena kakiku sakit banget, terkilir sepertinya. Jauh dalam hati, aku berharap dia akan mengejarku dan memaksaku ikut dia pulang. Namun, dia hanya diam saja dan tetap berjalan di belakangku. “Udah, jangan banyak berharap. Salah sendiri tadi ditawarin nolak? Mana mungkin dia akan nawarin lagi?” Akhirnya sosoknya menghilang ke dalam mobil CRV hitam yang kemudian melaju meninggalkan lapangan parkir berlawanan arah denganku.

Angkot yang kunaiki merambat pelan dalam kemacetan yang selalu terjadi pada jam pulang kantor seperti ini. Anganku kembali berputar menghadirkan sosok Helbert, sosok yang tampan, atletis, tinggi, gentle, smart, supel, benar-benar tidak salah kalau dia menjadi cowok idola di sekolah kami. Hampir setiap wanita normal pasti menyukai tipe cowok seperti ini. rasanya dia terlahir begitu sempurna. Tak terhitung lagi berapa banyak temanku yang menyukainya, mereka selalu berusaha mendekatinya, mengajaknya ngobrol dan keluar bersama. Aku hanya berani memperhatikannya dari jauh, meskipun terkadang dia mendekatiku dan mengajakku ngobrol, namun aku berusaha menjaga perasaan teman-temanku yang juga menyukai dia dan aku tidak ingin orang lain tahu betapa aku sangat mencintainya. Cinta? Ya, aku mencintainya. Sejak awal ketika pertama kali bertemu dengannya, aku sudah terpesona dan mengaguminya. Sampai sekarangpun perasaan itu tetap sama, bahkan makin berkembang. Menyakitkan memang karena aku mencintai orang yang mustahil mencintaiku. Dia tidak mungkin akan jatuh cinta pada gadis sederhana sepertiku, gadis yang tidak terlalu menarik bagi kebanyakan cowok. “Ah, sudahlah. Aku toh sudah janji ma Tuhan akan mencintainya dengan tulus, tanpa mengharapkan apa-apa.” Aku memutus lamunanku karena kulihat angkot sudah mendekati rumahku. “Kiri, pak!”

“Duh, ternyata sakit banget kakiku.” Kuseret langkahku memasuki anak tangga di depan rumahku. Aku tertegun ketika kutemukan ada CRV hitam yang sangat kukenal di halaman rumahku. ”Helbert? Ngapain dia di rumahku?” “Hai, Cyn! Tuh kan, kesakitan? Tadi mau diantarin gak mau, akhirnya jadi pincang gitu.” Setengah mengomel dan cemas dia menatap kakiku. “gak pa-pa. besok juga baik. Kamu ngapain di sini? Ada temanmu di dekat sini?” “Iya, aku mau ngunjungin rumah teman.” “Di mana? Jangan-jangan aku kenal. Pasti cewek ya?” sergahku cepat, sekarang bukan saja kakiku yang sakit, tapi hatiku juga pedih. “Iya, cewek. Kamu kenal baik kok.” Jawabannya mengiris hatiku. ”Siapa? Mana alamatnya, no berapa rumahnya?” nadaku menampakkan kekecewaanku. “Jl. Cempedak no 25. Cynthia namanya. Hahahaha. Aku mau main ke rumahmu, boleh gak?” “Dasar! Ditanyain serius malah bercanda. Siapa?” mangkel deh aku karena makin penasaran. “Aku serius kok, gak dipersilakan masuk dulu tah?” tatapnya lembut. “Ayo, masuk.” Setengah heran aku membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. ”Ada apa?” Rasa penasaran menyergap relung hatiku. “Cyn… Ini buatmu.” sebuah kado kecil berwarna pink disodorkan padaku, dan ada setangkai bunga mawar pink juga.” Apa ini? Dalam rangka apa? Aku kan gak ulang tahun. ”Tolakku dengan kaget. “Ya, aku tahu kok. Kamu ultah kan 15 Juli. Itu ada kartu, dibuka dan dibaca dulu.” Dengan gemetar aku membaca kata-kata dalam kartu itu ”Cyn.. Today is valentine. And I wan’t you to know that I have been falling in love with you since the first time you smile at me. Would you be my valentine, please? Because you are someone that is so special to me. I love you, Cynthia. From: Helbert.”

Aku kehilangan semua kata-kata dan pertanyaan yang tadinya sudah antri di mulutku. “Helbert….??” “Aku sayang kamu, Cyn. Belum cukup jelas ya di kartu? I love you, Cyn. Kamu mau gak jadi pacarku?” Bagaikan petir di siang hari, ucapan Helbert menghentakkan seluruh saraf dan tubuhku menjadi kaku dan dingin. “Cyn, kamu sayang aku gak?” “Duh,pertanyaan yang gak perlu. Dia gak tahu betapa sayangnya aku pada dia.” keluhku dalam hati. “Ok d, mungkin kamu butuh waktu, aku akan tunggu sampai kamu siap menjawabku. Tapi sekarang boleh gak aku ajak kamu makan di luar? Anggaplah sebagai kado valentine buatku. Aku akan senang sekali kalau kamu mau nemani aku makan. Aku dari pagi belum makan lho, puasa sampai aku bisa utarakan isi hatiku ma kamu hari ini. Kasihan kan kalau aku makan sendiri?” wajahnya jadi memelas dan menggemaskan banget, membuatku segera mengangguk. “Ya, aku juga sayang kamu kok.” Jawabku pelan. “oh ya, wah! T’rima kasih, Cyn.” Helbert tersenyum senang. “Oh, Tuhan… T’rima kasih banyak. Akhirnya aku tak lagi harus menyangkali perasaanku karena ternyata dia juga sayang ma aku dan dia memilihku di antara sekian gadis yang menyukainya. T’rima kasih banyak, Tuhan Yesus.” Doaku dalam hati. Dengan sayup, kudengar Tuhan berbisik di telingaku” Aku juga sayang kamu, anakku.” “Ya, aku juga sayang kamu, Yesus.” Sungguh indah sekali bagiku perkataan “AKU SAYANG KAMU”!



*Dengan ijin penulis aslinya: Ev. Susanty Link.

Impossible is Nothing



Bagi saudara yang seringkali ingin melakukan hal besar namun terkendala karena sepertinya mustahil untuk dikerjakan, perhatikanlah kutipan ini:
"Start by doing what’s necessary; then do what’s possible; and suddenly you are doing the impossible."
- St. Francis of Assisi -

Saturday, May 21, 2011

Keistimewaan Pengalaman Yang Memuaskan


2 Korintus 9:8-12

Pernahkah saudara memiliki pengalaman yang nampaknya tak dapat dilupakan seumur hidup? Pengalaman-pengalaman yang positif biasanya lebih meninggalkan kenangan lebih lama dalam memori pikiran kita. Pengalaman-pengalaman yang menakjubkan yang secara khusus terjadi pada diri sendiri membuat ukiran kenangan yang indah dan tak terlupakan. Dalam konteks kehidupan iman kita sebagai orang percaya, tentu tak dapat dilupakan ketika pertama kali Tuhan menyapa hidup pribadi masing-masing kita dan mengambil kita menjadi anak-Nya. Kasih Allah yang tak ada batas itu membuat ukiran indah nan kekal tergores dalam hati kita.

Mengikut Yesus tidaklah berhenti pada sekedar menjadi murid serta bersikap apatis terhadap beban kebutuhan orang lain. Pasal 8 dan 9 dari 2 Korintus ini berisi instruksi persembahan untuk membantu kebutuhan untuk orang-orang Kristen Yerusalem. Di dalam melakukan ini, Paulus memaparkan filosofi total perihal memberi dalam Perjanjian Baru yang menggantikan prinsip persembahan dalam Perjanjian Lama. Dan dalam teks kita hari ini Paulus memberikan prinsip-prinsip dasar. Sebuah pemberian sukarela dan sukacita tanpa paksaan berarti beriman seraya mempercayakan apa yang kita beri dan yakin bahwa Tuhan akan menyediakan yang diperlukan serta melipatgandakannya (ay. 10). Karena itu, sebenarnya tak perlu ada rasa takut dalam memberi. Tuhan mampu dan sanggup menyediakan apa yang kita perlukan (ay. 10-12). Pemberian yang dilakukan dengan dasar sukarela dan sukacita bukan hanya mencukupkan kebutuhan orang yang memerlukan, tetapi juga akan membuat orang-orang yang menerima bantuan itu semakin melimpah dalam ucapan syukur dan memuliakan Allah (12-13).

Jika Tuhan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan, maka pengalaman hidup kita bukanlah pengalaman yang sederhana melainkan pengalaman yang akan berkesan dan bahkan menjadi pengalaman yang memuaskan.

Dewasa: Mengetahui Prioritas Hidup


Luk. 6:25-33

Sebuah iklan mengatakan “Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.” Banyak orang kita temui termasuk di dalamnya adalah orang Kristen, memang berusia tua, tetapi belum tentu dewasa dalam segala hal. Salah satu hal yang menjadi faktor bahwa seseorang belum bisa dikatakan dewasa adalah soal prioritas hidup. Seseorang belum dewasa ketika hidupnya diisi dengan nilai-nilai kecil yang seringkali berpusat pada diri. Suatu saat ketika nilai-nilai itu tidak mampu memenuhi standar diri, maka hidupnya mulai dipenuhi kekuatiran akan apapun. Berbeda dengan orang yang dewasa yang nilai-nilai hidupnya dibangun bukan lagi pada diri sendiri dan kepuasan pribadi, namun kepada nilai-nilai kekal dan memuaskan hati Allah.

Dalam teks kita hari ini kekuatiran sebagai dampak dari kehidupan yang berpusat pada diri memberi banyak hal negatif. Kekuatiran-kekuatiran itu dapat:
• Merusak kesehatan kita (ay. 25: tubuh itu lebih penting daripada pakaian).
• Objek kekuatiran kita pasti banyak mengkonsumsi pikiran, waktu dan tenaga kita. (ay. 27: kekuatiran tidak menambah sehasta dalam hidup kita).
• Mengacaukan produktifitas kita dalam bekerja dan melayani.
• Berdampak negatif dalam memperlakukan orang lain.
• Mengurangi kemampuan untuk percaya, berserah dan bersandar pada Tuhan. (ay. 30: orang kurang percaya bahwa Allah dapat lebih mendandani kita daripada rumput di ladang).

Dia akan memenuhi segala kebutuhan yang terkadang kita kuatirkan, namun Dia berikan syarat supaya kita mendapatkannya. Syaratnya adalah “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” dan hasilnya adalah “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (ay. 33). “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” maksudnya adalah selalu beralih kepada Tuhan untuk mencari pertolongan, penuhi pikiran kita dengan apa yang menjadi keinginan-Nya, setiap pola hidup kita serupa dengan karakter Kristus, serta melayani dan taat dalam segala sesuatu.

Hal-hal apa saja yang seringkali lebih penting dalam hidup kita?? Orang atau rekan bisnis, objek-objek bisnis, tujuan-tujuan yang harus dicapai, dan semua keinginan berpacu atau berlomba satu demi satu untuk menjadi yang diprioritaskan. Ingatlah! Semua itu akan dapat dengan cepat menjadi hal-hal yang terpenting dalam hidup kita, kalau kita tidak dengan aktif memilih Tuhan sebagai tempat pertama di dalam setiap sisi kehidupan kita masing-masing.

Cakap Dalam Menggunakan Uang


Luk. 16:8-10

Tentu kita semua mengenal sebuah pribahasa “besar pasak daripada tiang.” Pribahasa ini ingin menyampaikan agar dalam pengelolaan keuangan pribadi maupun keluarga, jangan sampai lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. Adanya pribahasa ini tidak membuat masalah keuangan semakin terbenahi, karena itu ada begitu banyak penulis buku berlomba-lomba membahas soal pengelolaan keuangan, baik keuangan pribadi maupun keuangan dalam keluarga. Sedemikian banyaknya buku tentang pengelolaan keuangan yang dijual memperlihatkan bahwa makin banyaknya masalah-masalah pengelolaan keuangan yang belum bisa terpraktikkan dengan baik. Masalah pengelolaan keuangan sudah dinyatakan pada waktu Yesus hidup melalui perumpamaan.

Diceritakan dalam teks kita ini, bahwa ada orang kaya mempunyai seorang bendahara yang dinilai tidak mampu untuk mengelola keuangan tuannya si orang kaya tersebut. Ketika bendahara itu tidak dapat mempertanggungjawabkan masalahnya, tuannya melepaskan jabatan sebagai hukuman baginya. Dalam kondisi yang berat, ide jahatpun muncul untuk menipu orang yang berhutang kepada tuannya untuk kepentingan dan kesejahteraan pribadi.

Dalam kehidupan orang percaya pun, perlu kita sadari sering tidak berfokus ke Sorga untuk menggunakan harta dunia demi kepentingan rohani dan sorgawi. Ketidakadilan, ketamakan dan kekuasaan sering terlibat dalam pengumpulan dan penggunaan "kekayaan duniawi." Inilah yang dimaksud dalam ayat 8 dan 9.

Penggunaan uang adalah sebuah ujian iman yang baik terhadap ke-Tuhanan Kristus. Kita perlu menyadari: (1) Uang adalah milik Tuhan, maka mari kita mengelolanya dengan bijak. (2) Uang dapat dipakai untuk kebaikan dan kejahatan, maka mari kita memakainya untuk kebaikan. (3) Uang mempunyai kuasa, maka mari kita memakainya dengan berhati-hati dan berhikmat. Kita harus memakai segala barang-barang materi sebagai cara untuk memperdalam akar iman serta mempertinggi tingkat ketaatan kita akan firman Tuhan.

Di dalam kebijakan memakai kesempatan penggunaan keuangan, bukanlah untuk mendapatkan Sorga, tetapi supaya Sorga (sebagai tempat tinggal kekal) akan menjadi sebuah pengalaman yang terbuka lebar bagi mereka yang membutuhkan. Jika kita menggunakan uang kita untuk menolong mereka yang membutuhkan atau membantu mereka menemukan Kristus, maka investasi duniawi kita akan membawa keuntungan yang kekal.

Wednesday, April 27, 2011

BANGKIT UNTUK MEMBERI LEBIH


1Kor. 15:8-11

Dalam sejarah Kekristenan ada banyak orang yang Tuhan panggil untuk menjadi berkat bagi banyak orang bahkan dunia! Salah satunya adalah Aurelius Agustinus atau Agustinus Hippo. Seorang yang brilian namun faktor lingkungan kota yang didiami, masa mudanya diisi dengan gaya hidup hedonistis dan kafir. Dalam kehidupan semacam itu Agustinus merasakan kegelisahan. Karena itu ia pergi ke Roma, pusat peradaban dunia waktu itu. Di sana ia berusaha mencari tahu kebenaran dan makna kehidupan, lewat pembelajaran dengan guru-guru yang terkemuka pada zaman itu. Sampai akhirnya dia tertarik dengan ajaran Kristen. Sampai akhirnya suatu hari, ketika Agustinus sedang gelisah dan berjalan di sebuah taman, ada anak-anak kecil yang bernyanyi tolle lege; tolle lege. Artinya, ambillah dan bacalah. Agustinus segera tergerak untuk mengambil Alkitab dan ayat pertama yang menusuk pandangan matanya ialah Roma 13:13-14. Agustinus segera bertobat. Ia meninggalkan kehidupan masa lalunya yang kelam itu dan menyerahkan diri untuk melayani Tuhan seumur hidupnya. Ia dipakai Tuhan secara luar biasa. Banyak orang Protestan menganggap dia sebagai salah satu sumber pemikiran teologis ajaran Reformasi tentang keselamatan dan anugerah. Martin Luther sebagai tokoh gerakan Reformasi banyak dipengaruhi oleh Agustinus.

Paulus dalam bagian firman Tuhan hari ini diubahkan karena perjumpaan pribadi dengan Yesus yang telah bangkit. Paulus yang dahulu adalah penganiaya jemaat Tuhan, namun sejak pertobatannya, dia dipakai Tuhan dengan luar biasa. Anugerah yang disadarinya itu hanya karena kasih karunia Allah, membuat dia bekerja lebih keras, melayani lebih sungguh, mengajar dan menginjil lebih gencar. Demikianlah kasih karunia Tuhan itu tidak sia-sia dalam hidupnya karena Paulus membalasnya dengan memberi lebih dalam pekerjaan dan pelayanannya. Di sini Paulus bangkit untuk memberi lebih!!

Di dalam kehidupan kita masing-masing, sebenarnya ada banyak hal yang dapat kita berikan secara lebih. Bukan hanya dalam hal pelayanan di gereja, tetapi di manapun kita berada ketika kita menyadari kasih karunia dari Allah sangat besar, maka kita terdorong untuk memberi lebih; baik dalam pekerjaan, studi, persembahan, dan pelayanan.

"Jika Yesus Kristus adalah Allah, dan Ia sudah mati bagi saya, maka tak ada pengorbanan yang terlalu besar bagiku untukNya." (C.T. Studd. 1860-1931. Misionary Inggris untuk China, India, Afrika).

KETERPISAHAN MENGHASILKAN BERKAT


Ibr. 12:1-6

Keterpisahan dengan orang yang kita kasihi seringkali menggoreskan luka yang dalam dalam hati. Apalagi ketika ditinggal oleh seorang yang menjadi teladan, pemimpin, atau figur yang kita kagumi dan banggakan. Keterpisahan juga seringkali berarti berhentinya sebuah karya, atau pekerjaan yang disebabkan sang pemimpin tidak lagi ada di tempat yang seharusnya.

Namun, ada pula keterpisahan yang justru menghasilkan atau mendatangkan berkat, mendatangkan suatu karya yang lebih besar. Ketika Yesus, Sang Guru Agung kembali ke Surga, para murid mengalami keterpisahan secara fisik. Dalam keseharian, mereka tidak lagi dapat berjumpa dan bertatap mata dengan figur pemimpin dan teladan hidup mereka. Roh Kudus yang dicurahkan ke atas mereka, Dialah yang memberikan keberanian kepada para murid untuk bersaksi dan melayani di tengah keterpisahan fisik dengan Yesus. Sekalipun dalam pelayanan para murid ada banyak tantangan, mereka dikuatkan dan semakin berani meneruskan karya Yesus di dalam dunia, yakni melakukan apa yang Yesus lakukan dan melakukan apa yang Yesus katakan.

Kini, tugas para murid itu ada di dalam tanggungjawab kita semua sebagai gereja-gereja Tuhan. Tugas pemberitaan Injil, bersaksi, melayani, ada di dalam gengam tangan kita semua. Penulis kitab Ibrani menyemangati kita untuk terus berlomba melakukan karya nyata, seperti yang Yesus dan para murid lakukan pada masa lampau. Sekalipun ada banyak kesulitan dan tantangan yang kita hadapi, tetapi tetaplah menyatakan kesaksian dan pelayanan kita dengan mata yang tertuju kepada Yesus sendiri yang memulai pelayanan itu. Dengan berkarya dan melayani sembari mata ini tetap memandang Yesus, iman yang kita miliki semakin lama semakin dalam. Ketika ada banyak tantangan yang melanda, penulis Ibrani menuliskan untuk selalu mengingat akan Yesus, yang ketika dalam kesulitan, selalu setia melakukan segala tugas pelayanan dan misi di dalam dunia ini.

Patutlah kita berbahagia ketika dalam pelayanan kita, kita merasakan apa yang Yesus rasakan. Apapun yang kita alami: penolakan ketika mengabarkan Injil, penganiayaan ketika bersaksi, dihina ketika melayani, ingatlah bahwa kita belum mencucurkan darah. Bersyukurlah, ketika berpisah secara fisik dengan Yesus, kita mengalami rasa yang sama seperti yang dialami Yesus. Berbahagialah, keterpisahan dengan Yesus secara fisik, memperdalam iman percaya dan semakin giat dan berani berkarya, karena Roh Kudus ada di dalam hati setiap kita yang percaya.

LEBIH DARI CUKUP


Luk. 23:42-43.

Penjahat di sebelah Yesus meminta (ay. 42), “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” lalu Yesus menjawab permintaan penjahat ini (ay. 43) dengan perkataan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.” Ini benar-benar bukan perkataan biasa. Ini perkataan yang kita pegang dalam iman dan aktifitas kita setiap hari.

Mari kita lihat juga:
“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” (Ef. 3:20-21)

Sekarang perhatikan kalimat, “dapat melakukan jauh lebih banyak . . .” Penjahat kedua itu, menerima hal ini dari Tuhan. Penjahat ini menerima lebih dari apa yang dia minta.

Mari kita lihat satu per satu akan permintaan penjahat dan respon jawab Yesus:
• Penjahat ini meminta sebuah berkat, waktunya adalah nanti ketika Yesus datang sebagai Raja, ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya. Tetapi apa jawab Yesus pada saat itu? Yesus berkata, “Sesungguhnya hari ini . . .”
• Penjahat meminta untuk “diingat.” Hanya itu yang berani dia minta sesuai kapasitas dirinya. Tetapi apa yang dia terima adalah sebuah jaminan, seolah Yesus berkata, “Aku bukan cuma akan mengingat kamu, tetapi kamu akan ada bersama-sama dengan Aku, dalam kedatanganku segera.”
• Yesus berkata, “. . . bersama-sama dengan Aku” di mana?? Bukanlah sebuah tempat mistis yang menakutkan, bukan pula dalam purgatori, tetapi di dalam Firdaus. Apa itu Firdaus? Firdaus itu adalah surga itu sendiri.

Kita bayangkan, seorang penjahat kelas kakap dan pada saat detik-detik terakhir dalam hidupnya, permintaannya bukan hanya dikabulkan tetapi diberikan lebih dari yang dia minta, bagaimana perasaannya?? Saya yakin, bukan hanya perasaan senang biasa, atau kelegaan, tetapi sukacita yang tak terkatakan, sembari menangis haru bercampur aduk dalam luapan emosi di detik-detik terakhir hidupnya. Seorang penjahat yang pada awalnya tidak tahu setelah kematian akan berada di mana, tetapi setelah perkataan Yesus yang penuh pengharapan itu, penjahat ini jelas tujuannya adalah berada bersama Yesus di Surga.

Kita sebagai orang percaya mempunyai Allah yang hidup. Allah yang mengerti segala kebutuhan kita. Allah yang memahami segala kondisi yang kita alami. Allah mampu melakukan jauh lebih banyak dan jauh lebih besar dari apa yang kita bisa pikirkan sebagai manusia terbatas.

Kalau dalam rumah tangga, kita sedang bergumul soal ekonomi, ingatlah Tuhan sanggup melakukan jauh lebih besar dari apa yang kita minta. Ketika kita bergumul soal kesehatan, Dia Tuhan yang telah membawa serta segala penyakit kita di kayu salib, dan ingatlah bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh. Ketika kita bergumul dalam konflik antar pasangan, Dia Allah yang menggantikan perseteruan dengan kedamaian. Andalkan Dia selalu, karena Dia Allah yang tahu segala perkara kita, Dia tahu segala kesusahan kita, dan Dia Allah yang dapat melakukan yang tidak mungkin bagi kita, di dalam Dia ada jalan keluar

Wednesday, April 6, 2011

Kemenangan yang Agung


1YOH. 5:1-5
Pada ayat 1-2, Yohanes sedang mengajar tentang Kasih. Dasar kasih kita kepada sesama adalah karena kita mengasihi Allah yang telah melahirbarukan kita. Lebih dalam lagi, kasih kepada Allah akan terlihat nyata di dalam ketaatan kita terhadap perintah-perintah-Nya. Semua orang yang mengasihi Allah, melakukan apa yang menyenangkan Allah.

Menyenangkan Allah dan melakukan perintah Allah tidak mempunyai ukuran tingkat sebab menyenangkan Allah merupakan respon terhadap kasih Allah di dalam hidup kita. Karena itu ayat 3 mengatakan bahwa perintah Allah tidaklah berat. Kita semua dapat memenuhi semua perintah Allah itu karena kita semua yang lahir dari Allah telah mengalahkan dunia. Pernyataan kemenangan Allah ini menjadi dasar mengapa perintah Allah tidaklah berat. Dalam bahasa aslinya, kata ‘mengalahkan’ memiliki akar kata yang sama dengan kata ‘kemenangan.’ “Mengalahkan” berarti mendapatkan kemenangan dalam sebuah pertandingan. Di dalam konteks 1 Yohanes ini, kemenangan itu berarti menang atas segala kuasa yang melawan Allah. Kita yang lahir dari Allah dapat menahan segala kuasa yang mencoba mengekang kita di dalam dunia dengan membujuk kita meninggalkan iman kita di dalam Kristus. Yohanes ingin menekankan kenyataan kemenangan itu, yakni bahwa orang percaya memiliki kemenangan itu sekarang juga.

'Kemenangan iman’ di dalam konteks ini berarti melanjutkan hidup di dalam iman bahwa Yesus adalah Anak Allah dan melalui Dia kita beroleh hidup, kita dapat mengalahkan dunia (3:13-14), lalu menerima hidup (2:1-2; 5:13) dan kita dijaga dari si jahat (5:18). Iman itu bukanlah tujuan kemenangan, bukan pula sesuatu untuk mendapat kemenangan. Iman itu sendiri adalah kemenangan karena berpusat kepada Anak Allah yang memberi kemenangan.

Memiliki iman seperti itu adalah memiliki kepercayaan kepada Allah, seperti anak-anak kepada orang tua mereka. Dan mereka memiliki kepercayaan karena pengalaman mereka terhadap kesetiaan dan kasih orang tua terhadap mereka. Jadi, panggilan untuk beriman dan panggilan untuk mengasihi adalah satu paket yang lengkap. Panggilan untuk mengasihi muncul dari natur Allah yang adalah kasih, yang mengasihi, mendorong, memberi perintah, dan menguatkan kita untuk mengasihi. Kita dipanggil untuk percaya kepada Allah yang adalah kasih. Allah adalah kasih bukanlah sebuah slogan romantis, tetapi sebuah kebenaran yang utama.

Kemenangan Agung Yesus yang kita imani juga sebagai kemenangan orang percaya, biarlah memimpin kita untuk tetap melakukan panggilan kita untuk setia kepada Yesus dan mengasihi sesama kita.

Thursday, March 3, 2011

Pengampunan: Hanya Ada di Dalam Tuhan


Mzm. 130:1-8
Sekian lama kita hidup sebagai orang Kristen, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, dan jika suatu kali kita melakukan dosa yang menurut kita terlampau besar, apa yang kita rasakan? Kita mungkin akan merasa sebagai orang yang sangat hina di hadapan Tuhan, bahkan di dalam situasi tertentu justru kita malu kepada Tuhan, kemudian semakin jauh dan mundur dari hadirat Allah. Ada suatu rasa bersalah yang sangat besar terhadap Allah, sehingga kita malu menghadap Dia, dan semakin jauh meninggalkan Tuhan.

Perikop kita hari ini memperlihatkan situasi serupa, ketika pemazmur merasa sangat berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan, -- “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan!” Jurang menggambarkan jarak yang begitu jauh antara Allah yang suci dan kudus dengan manusia yang penuh dosa dan cela. Dari jarak yang begitu jauh itu pemazmur mengharap perhatian Allah akan pengampunan atas dosa-dosanya. Pemazmur sadar bahwa tidak akan ada orang yang dapat tahan berdiri dengan segala dosanya di hadapan Tuhan Sang hakim yang adil pada saat Penghakiman Terakhir nanti. Karena itu, pemazmur datang ke hadirat Tuhan memohon belas kasihan akan pengampunan. Dan yang dilakukan oleh pemazmur ini adalah tepat, karena ada pengampunan yang Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mau datang kepada-Nya (4a). Tuhan ditakuti bukan hanya karena Penghakiman Terakhir, tetapi juga karena besarnya kasih pengampunan-Nya.

Ketika kita merasa bahwa kesalahan, dosa, dan cacat cela begitu besar sehingga tidak ada orang yang dapat menolong kita, maka datanglah kepada Yesus. Akui dosa-dosa secara pribadi kepada Tuhan, mohon pengampunan-Nya. Di dalam Tuhan ada pengampunan yang sejati. Percayalah bahwa Ia telah mengampunimu, karena Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih setia, panjang sabar, serta pengampun. Tidak ada dosa yang terlebih besar daripada kasih pengampunan-Nya.

*Telah dimuat dalam renungan PELITA

Ku Tak Akan Menyerah


Kis. 5:17-25.
Di dalam sejarah Kekristenan, ada banyak kali para pengikut Kristus diperhadapkan dengan bahaya, dalam bentuk penganiayaan, penderitaan, dan tekanan-tekanan. Tidak berbeda dengan zaman kita hidup saat ini, jika kita melihat di situs www.persecution.com, kita akan mendapati ada banyak anak-anak Tuhan di berbagai macam tempat di dunia ini menghadapi tantangan dan tekanan di dalam beribadah dan memberitakan firman Tuhan. Saat ini, kita akan melihat apa yang dilakukan Allah melalui para rasul di dalam keadaan seperti itu.

Di dalam perikop ini para rasul dimasukkan ke dalam penjara oleh Imam Besar dan para pengikutnya hanya karena alasan iri hati. Di perikop sebelumnya (5:12-16) mencatat semua yang dilakukan para rasul. ‘Ketenaran’ dan ‘kesuksesan’ para rasul dalam mengabarkan Injil, mengadakan mujizat dan tanda-tanda telah membuat Imam Besar ‘kebakaran jenggot’ dan iri hati. Nah, karena faktor inilah, Imam Besar dan para pengikutnya memasukkan mereka ke dalam penjara dengan tujuan supaya mujizat, tanda-tanda, dan pengajaran firman yang dilakukan para rasul terhenti, serta Imam Besar dapat kembali ‘tenar’ seperti semula.

Namun sayang, apa yang Imam Besar dan pengikutnya lakukan nampak sia-sia belaka, karena sebenarnya mereka melawan Allah yang berada di belakang dan mendukung para rasul. Malaikat Allah membebaskan para rasul dari penjara dan memerintahkan mereka pergi ke Bait Allah untuk mengajar dan memberitakan firman Allah kepada banyak orang. Dan para rasul taat kepada perintah malaikat Tuhan itu. Para rasul tetap mengajar dan memberitakan firman, meskipun mereka telah merasakan ketidaknyamanan penjara kota. Para rasul tidak menyerah memberitakan Injil karena mereka yakin dan sadar ada Allah yang mendukung dan memimpin langkah mereka.

Melalui renungan hari ini, saudara diajak untuk tidak menyerah terhadap segala tantangan dan hambatan khususnya ketika kita beribadah dan memberitakan Injil Allah. Apakah selama ini sikap kita dalam beribadah terpengaruhi oleh ketakutan akan tekanan pihak mayoritas? Apakah kita terus setia mengajar dan memberitakan Injil, walau ada tantangan dan bahaya menghadang kita? Biarlah sikap hati dan mental para rasul ada di dalam hati kita ketika kita menjalankan Amanat Agung Yesus di dalam dunia ini.

*Telah dimuat dalam renungan PELITA.

Tuesday, October 26, 2010

A NEW FRESH START


Mat. 9:14-17.
Perikop ini mungkin terasa membingungkan bagi pembaca awam. Sulit untuk memahami kaitan antara anggur baru, kantong kulit yang tua, dan orang Farisi. Apalagi kisah ini ditulis dalam tiga kitab Injil, tentu ada maksud dan kepentingannya bagi kita masa kini. Jadi apa maksudnya??

****

- Pada masa itu, anggur tidak disimpan di dalam botol-botol kaca, tetapi di dalam kantong kulit kambing yang dijahit sisi pinggirnya menjadi sebuah kantong kulit yang kedap air. Air anggur yang baru akan berfermentasi, mengembang, dan otomatis mengembangkan pula kantong kulit pembungkusnya. Nah, karena alasan inilah mengapa anggur baru tidak boleh disimpan di dalam kantong kulit yang tua. Jika air anggur yang berfermentasi disimpan di dalam kantong anggur yang tua, maka kantong tua yang sudah mengembang akan pecah. Karena itu, anggur baru selalu disimpan di dalam kantong kulit yang baru.
- Yesus menggunakan gambaran perumpamaan ini untuk menjelaskan bahwa Dia datang tidak untuk melengkapi sistem agama Yahudi yang tua, yang penuh dengan aturan-aturan dan tradisi-tradisi. Tradisi dan aturan-aturan tua dan kuno yang dilakukan oleh orang Farisi adalah seperti sebuah kantong kulit tua! Mereka tidak dapat menerima Yesus dan misi-Nya di dalam tradisi dan aturan lama mereka.
- Yesus membawa misi dan tujuan yang baru yang telah dinubuatkan berabad-abad lamanya. Injil Kerajaan Allah yang dibawa Yesus tidak cocok dengan sistem agama yang kuno dan tua. Kekristenan memerlukan pendekatan-pendekatan baru, dan struktur-struktur baru.

****

- Berita mengenai Injil selalu tetap “baru” karena selalu diberitakan dan diterapkan di dalam setiap generasi yang “baru.” Ketika kita menjadi pengikut Kristus, kita harus siap akan cara-cara baru bagaimana kita hidup, cara-cara baru memandang orang lain, cara-cara baru untuk melayani di setiap generasi. Jagalah hati kita supaya tetap menjadi hati yang selalu “baru” untuk menerima kebenaran Kristus yang mengubahkan hidup.
- Setiap program-program dan pelayanan dalam gereja jangan dikekang dan dibelenggu di dalam struktur yang tidak dapat disentuh oleh ide-ide baru, metode-metode baru, dan bahkan jamahan Roh Kudus yang mengubahkan. Janganlah juga hati kita menjadi hati yang kaku, yang menghalangi kita menerima cara pemikiran baru yang Kristus bawa. Jagalah hati kita supaya tetap menjadi hati yang terbuka lebar untuk diperbarui menerima berita Injil yang mengubahkan.

The Way to the Kingdom is the Way of the Cross


Teks Markus 15:29-32, khususnya di ayat 32 memperlihatkan ada dua penjahat yang turut disalibkan bersama dengan Yesus. Renunganku hari ini, teks ini dihubungkan dengan permintaan Yakobus dan Yohanes untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus kelak di dalam kemuliaan (Mrk. 15:35-39). Perikop Markus 15:35-39 berakhir dengan sebuah nasehat: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk. 15:43-44). Dengan kata lain, bagi mereka yang ingin mendapat bagian di dalam kemuliaan Kerajaan Surga, hendaklah mereka menjadi hamba/pelayan bagi semua.

Ketika Yakobus dan Yohanes meminta Yesus untuk duduk di tempat terhormat di sebelah kanan dan kiri dalam kerajaan-Nya, Yesus mengatakan bahwa mereka berdua tidak tahu apa yang mereka minta (Mrk. 10:38). Di sini (Mrk. 15:29-32), ketika Yesus menderita tergantung di kayu Salib, sedang mempersiapkan peristiwa inaugurasi kerajaan-Nya melalui kematian-Nya, tempat di sebelah kanan dan kiri-Nya, diambil oleh orang yang juga menderita. Sebagaimana yang Yesus jelaskan kepada kedua murid yang haus kekuasaan, seseorang yang ingin dekat dengan Yesus di dalam kemuliaan, harus ikut menderita dan mati seperti yang Yesus sendiri lakukan. Bagi mereka yang ingin mendapat bagian di dalam kemuliaan Kerajaan Surga, hendaknya bukan hanya menjadi hamba/pelayan, namun juga ikut menderita dan mati, seperti yang Yesus telah lakukan. Kesediaan untuk menjadi hamba/pelayan, harus disertai pula dengan kesediaan untuk ikut menderita bahkan mati bagi Kristus.

The way to the kingdom is the way of the cross. If we want the glory of the kingdom, we must be willing to be united with the crucified Christ.

Thursday, July 8, 2010

BERDOA: MENGUBAH yang MUSTAHIL MENJADI NYATA (1 Sam. 1:1-28)


1. Hari ini saya akan membagikan kesaksian saya setelah sedemikian lama saya mengikut Tuhan. Satu dari banyak perbuatan Tuhan yang ajaib yang tidak dapat saya pikirkan dan saya duga, akan saya bagikan di sini.
2. Karena budaya kita berbeda maka dengan berat hati saya memberitahu saudara bahwa sebenarnya saya sudah mempunyai dua istri dan saya punya banyak anak. Istri pertama saya, dia mandul, gak punya anak. Waktu tahu dia mandul, saya malu sekali. Malu karena kehadiran anak sangat penting bagi ekonomi keluarga, sebab mereka ini adalah sumber penghasilan keluarga. Bisa saja saya ceraikan dia, tetapi saya memilih untuk tetap menjadikan dia sebagai istri saya, saya sayang banget sama dia. Dia juga akhirnya menginjinkan saya untuk mengambil perempuan lain untuk menjadi istri kedua saya, dan dari perempuan kedua ini saya punya banyak anak.
3. Itulah budaya saya. Kalo dalam budaya saudara, pemerintah menyarankan punya satu istri dan dua anak, maka dalam budaya saya, saya diperbolehkan punya istri lebih dari satu dan banyak sekali anak. Kata orang banyak anak banyak rejeki, dikit anak dikit rejeki. Nah, maka dari itu, saya punya banyak anak, supaya banyak rejeki. Tapi saya didik mereka untuk bekerja, sehingga nanti mereka bisa memelihara orang tuanya kalo sudah tua. Anak-anak ini juga sebagai penerus keturunan saya. Mereka ini penerus nama keluarga dan pewaris kekayaan saya.
4. Nah sekarang ini saya sudah punya satu anak yang sangat saya kasihi. Tuhan yang memberikannya kepada istri pertama saya. Begini ceritanya:
5. Waktu itu kami sekeluarga rutin pergi tiap tahun untuk berbakti kepada Allah. Saya, kedua istri, dan anak-anak saya pergi ke luar kota menghadap Tuhan. Tiap tahun istri pertama saya selalu menangis. Ia selalu bersedih hati, tidak mau makan karena selalu saja dihina, diejek oleh istri kedua saya. Saya tahu permasalahan utama dia adalah karena kemandulannya. Saya sebagai suami juga tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa berharap keberadaan saya ini cukup daripada banyak anak laki-laki.
6. Ketika kami sampai di Silo, seperti biasa istri tidak mau makan, sedih, lantaran ejekan istri kedua saya. Tetapi ada yang lain pada tahun itu. Selesai waktu kami makan dan minum, istri pertama saya pergi berdoa, dia menangis di hadapan Tuhan. Dia berdoa, menangis sambil bernazar kepada Tuhan. Katanya: TUHAN Yang Mahakuasa, perhatikanlah hamba-Mu ini! Lihatlah sengsara hamba. Ingatlah kepada hamba dan jangan lupakan hamba! Jika Engkau memberikan kepada hamba seorang anak laki-laki, hamba berjanji akan memberikan dia kepada-Mu seumur hidupnya (BIS).
7. Lihatlah! Ada tekanan yang hebat di dalam dirinya. Tekanan komunitas sosial, tekanan istri kedua saya, tekanan dari dirinya sendiri bahwa dirinya mandul, dan imampun mengatakan dia mabuk. Dalam beratnya tekanan yang dia derita, dia tidak menyerah pada situasi, tetapi dia berserah, dia sampaikan pergumulan hidup utamanya kepada Tuhan melalui dia berdoa. Istri saya adalah sosok perempuan yang tegar. Saya kira, saya tidak salah memilih dia menjadi istri saya, dan saya tidak menyesal saya mengasihi dia meskipun dia mandul. Barangkali si Peter itu akan mengikuti jejak saya.
8. Yang mengejutkan adalah setelah berdoa, wajahnya berseri-seri, seolah tidak ada beban lagi, dan dia mau makan. Kesusahannya tetaplah kesusahan, tetapi dia tidak mau terus berada di dalam kesusahan itu. Penyerahan di dalam doa adalah penyerahan totalitas hidup ke dalam kedaulatan Tuhan. Itulah sebabnya tidak perlu lagi kekuatiran, dan kesedihan itu berlarut-larut. Keesokan paginya kami kembali ke Rama.
9. Setahun kemudian setelah dia berdoa, akhirnya dia mengandung dan melahirkan anak laki-laki. Kami menamainya Samuel. Kalo di Alkitab ini artinya: Aku telah memintanya daripada Tuhan. Kalo di dalam bahasa Ibrani, kami mengartikannya dengan frasa “didengar Tuhan.” Ya kira-kira sama artinya. Istri saya meminta dari Tuhan, dan Tuhan mendengarkan doanya. Kelahiran Samuel bagi saya merupakan hadiah dari Tuhan. Inilah anak yang saya tunggu-tunggu dari istri yang sangat saya cintai.
10. Setelah lahirnya Samuel, saya dan keluarga mau pergi kembali untuk beribadah ke Silo, mempersembahkan korban sembelihan dan korban nazar. Tetapi istri saya gak ikut, katanya mau menunggu sampai Samuel tidak menyusu lagi. Saya menyetujuinya.
11. Dua atau tiga tahun kemudian, istri saya pergi untuk beribadah, sekaligus mempersembahkan korban lembu jantan pada Tuhan. Di bait Allah itu, istriku, Hana, menyerahkan juga Samuel (3 tahun) kepada Tuhan untuk bekerja dan melayani di Bait Suci. Istriku memenuhi nazarnya kepada Tuhan.
12. Dari peristiwa ini, ada begitu banyak berkat rohani yang saya terima. Saya merasa Tuhan membentuk saya dengan begitu luar biasa. Setelah semua ini terjadi, Dia mencoba memperlihatkan kepada saya dan dunia saat ini bahwa Dia Allah yang berkuasa atas segalanya.
13. Pada mula, ketika Dia menutup kandungan istri saya, Dia mau supaya saya belajar untuk tetap mengasihi dia, meskipun dia mandul dan begitu banyak orang mencelanya. Tuhan ingin saya belajar untuk mengasihi istri saya, menemani dia apapun keadaannya dan dalam segala kesusahannya.
14. Ketika Tuhan mengingat kesengsaraan istri saya dan kembali membuka kandungannya, lalu saya mendapat anak yang istimewa, saya belajar menyerahkannya kembali kepada Allah, mempersembahkan kepada Tuhan untuk Tuhan pakai menjadi alat Tuhan sendiri. Setelah saya mempersembahkan Samuel sebagai harta paling berharga di dalam hidup kami, Tuhan ternyata mengaruniakan lagi tiga anak laki-laki dan dua perempuan (2:21) kepada kami. Wow! Di sini saya belajar Dia adalah Tuhan yang tahu benar akan kebutuhan utama kebahagiaan keluarga saya. Ketika semuanya ini sudah terjadi, saya belajar di dalamnya, Dialah Tuhan yang merencanakan sesuatu yang besar, melahirkan seorang nabi/hamba Tuhan yang diperkenan Tuhan bagi bangsa kami.
15. Sebelum saya ke sini, saya ngobrol sama istri saya Hana, apa berkat yang kamu peroleh dari peristiwa ini. Dia menjawab: satu hal yang membuat dia sukacita adalah ketika Tuhan mendengar kesusahannya, Tuhan mendengar doanya, dan Dia mengabulkan permohonannya. Setelah dia menyerahkan anak yang ditunggu-tunggunya seumur hidup kepada Tuhan, sukacitanya menjadi sempurna, saat Tuhan ga cuma kasih Samuel saja, Tuhan kasih lagi 3 laki 2 perempuan pada kami. Bertahun-tahun dia menunggu, tetapi pada saatnya tiba, Tuhan memberi lebih dari apa yang dapat kami duga.
16. Demikianlah orang yang berserah pada Tuhan di dalam doa. Istri saya menjadi contoh nyata kebaikan dan kemurahan Tuhan. Dikala ada begitu banyak hal-hal yang kita rasa tidak mungkin terjadi, berserah dan berharaplah pada Tuhan. Di saat tidak ada lagi jalan keluar dari permasalahanmu, berlutut dan berdoa kepada Tuhan adalah satu-satunya yang bisa dilakukan. Bawa segala masalahmu di dalam doa. Dia akan bertindak secara ajaib di dalam hidup kita semua. Percayalah pada kuasa-Nya. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

*BERDOA: MENGUBAH yang MUSTAHIL MENJADI NYATA (1 Sam. 1:1-28)
**Telah disampaikan dalam bentuk khotbah, Minggu, 4 Juli 2010.

Saturday, May 22, 2010

SHOW YOUR LOVE TO EVERYONE


Demikian percakapan saya dengan mbak-mbak perawat RS di kantor informasi, hari Jumat kemarin untuk memimpin persekutuan di RS.

“Met siang mbak (Bahasa di sini: kak)” kataku.
“Met siang” jawabnya.
“Kantor dokter ini (menyebut nama seorang dokter) di mana ya?” tanyaku.
“Dokternya gak ada, udah pulang” jawabnya.
“Kalo dokter ini (menyebut kembali nama dokter lain)?” tanyaku kembali.
“Gak ada Bang, udah pada pulang.” katanya.
“Dokter ini (menyebut kembali nama dokter lain) ada?” tanyaku lagi.
“Gak ada Bang. Hari Jumat cuma setengah hari, semua dokter pulang jam setengah 12” katanya
“Oh gitu ya? Ya udah deh, makasih” kataku.

Dalam keadaan bingung, – persekutuan di RS udah hampir jamnya, sinyal HP mati, jadi ga bisa nelpon contact person – aku putuskan pulang dulu ke rumah dan mengambil HP satu lagi dan mengisi pulsanya, . Setelah itu, saya naek motor, mau nyalain motor, tiba-tiba ada beberapa orang mbak-mbak perawat menghadang motor saya. “Walah, ada apa lagi nih?” kataku dalam hati. Percakapanpun berlanjut.

“Mau kebaktian ya, Bang?” tanyanya dengan nada agak halus.
“Iya” kataku sambil ngembaliin lagi posisi motor ke tempat asal.
“Tunggu aja Bang di sini, mungkin mereka lagi makan, bentar lagi mereka kembali” katanya.

Sayup-sayup kudengar percakapan dari antara mereka, “Kenapa tadi kamu bilang para dokter sudah pulang?” tanya salah seorang perawat. “Ya abis, nggak liat Alkitabnya” kata perawat yang berbicara denganku. Kataku dalam hati, “Walah, mbak, Alkitab segede tafsiran Roma – Schreiner, saya jinjing dari tadi ga terlihat??” Percakapan pun berlanjut.

“Mari, masuk Pak” katanya sambil mengarahkanku masuk kantor bagian informasi.
“Di sini aja deh, ga apa-apa” kataku sambil bertanya-tanya kenapa sekarang manggil saya, bapak. 
“Bapak ini Pendeta?” tanyanya.
“Bukan. Penginjil” kataku (meski belum resmi jadi penginjil, mau bilang apa lagi?? )
“Masuk aja Pak, nunggu di dalam kantor” kata salah seorang dari antara perawat.
“Gak apa-apa mbak, di sini aja, adem” kataku sambil bersandar pada pilar RS.
Tak lama, para dokter datang dan kami mulai kebaktian.

Terlihat perbedaannya ketika berbicara sebelum mereka melihat saya membawa Alkitab, dan setelah tahu saya membawa Alkitab. Penafsiran diserahkan kepada para pembaca. Bebas menafsir. 

Tuesday, May 11, 2010

TRADISI DAN KEBIASAAN DALAM GEREJA SUKU


Pada hari Minggu, 9 Mei kemarin, saya mendapat pengalaman baru di tanah Batak ini. Sedih dan senang bercampur dalam pengalaman baruku ini. Kemarin, saya melayani di Pos PI GKKK Batang Toru, sebuah kota kecil, dua jam perjalanan dari Sibolga. Setelah menyelesaikan tugas pelayanan saya, saya diajak oleh salah seorang pengurus GKKK Batang Toru, dan juga salah seorang cikal bakal terbentuknya GKKK Sibolga, untuk ikut menghadiri pesta yang diadakan oleh gereja tetangga. Beliau bernama Bapak Wahyu. Karena keramahan dan kemurahan hatinya, beliau disegani oleh penduduk kota Batang Toru.

Selesai ibadah gereja, jam menunjukkan pukul 11.30, kami segera jalan kaki ke gereja tetangga. Ternyata begitu kami sampai di gereja tersebut, mereka belum selesai ibadah. Pendeta masih berkhotbah. Kami duduk di luar pelataran gereja bersama beberapa anggota jemaat gereja tersebut. “Tak apalah,” kataku, “lumayan bisa belajar dan dengar khotbah bahasa batak dari gereja tetangga, sekaligus gereja suku, yang memiliki banyak jemaat tersebar di Indonesia, bahkan kabarnya di luar negeri juga ada,” pikirku. Sambil tetap mendengarkan khotbah dalam bahasa Batak yang saya sama sekali tidak mengerti, saya bertanya kepada Pak Wahyu, “Ini pesta apa to Pak?” Beliau mengatakan bahwa yang akan dirayakan ini adalah Pesta Kebangunan Kaum Pria. “Oh, gitu toh,” ucapku. Rasa ingin tahuku semakin besar, dan ingin segera melihat acara apa ini. Kira-kira setengah jam kemudian, ibadah selesai. Seorang majelis gereja tersebut mengundang kami masuk ke tenda yang sengaja didirikan untuk acara ini. Tenda didirikan di luar halaman gereja.

Singkat cerita, Pak Wahyu dan saya bergerak masuk. Kami disuruh duduk di kursi paling depan!! Berjajar mulai dari pendeta gereja tersebut, Pak Wahyu, saya sendiri, kemudian di sebelah kanan saya ada tamu undangan lain. “Wuih, jarang-jarang kayak gini,”kataku dalam hati. Tak lama, kami disuguhi makan siang oleh panitia. Sambil makan, alunan musik khas Batak mengiringi makan siang kami. Sambil makan menghadap panggung kecil di depanku, tiba-tiba indra penglihatan saya tertuju pada beberapa tumpuk dus bir Bintang, dan ada juga bir hitam Guinness. “Apa pula ini? Untuk apa?” kataku dalam hati. Sambil berusaha menghabiskan makan siang, saya terus berpikir tentang hal itu, acarapun akhirnya dimulai.

Masih diiringi lagu khas Batak, MC naik panggung, berbahasa Batak yang tetap saya tak mengerti, namun saya mengira, sepertinya ini adalah acara lelang. Lelang ini bertujuan untuk pengumpulan dana gereja guna membangun sekolah TK yang bertempat di samping gedung gereja tersebut. Menurut informasi yang saya peroleh, seringkali dan bahkan katanya sudah menjadi tradisi bahwa setiap kali gereja membutuhkan dana, maka diadakan acara lelang tersebut. Sebenarnya biaya untuk pengadaan acara lelang ini saja, sudah dapat dikatakan sangat besar, sebab harus menyewa tenda, sound system, keyboard beserta pemainnya yang mahir memainkan lagu-lagu tanah Batak ini. Namun, sekali lagi, acara lelang ini sudah menjadi tradisi, yang dilakukan setiap kali gereja membutuhkan dana.

Baru kali ini aku menghadiri acara lelang, dan baru kali ini juga aku menghadiri acara lelang yang diadakan oleh gereja berkedok tradisi. “Menambah pengalaman baru,” kataku. Barang-barang yang diikutsertakan dalam lelang pun beragam, diantaranya: kepala babi, ekor babi, daging babi (dibuat sate; 1 tusuk berisi 3 daging besar), ayam bakar, hiasan dinding Perjamuan Makan Yesus, bir Bintang, bir hitam, air tuak, lemang (ketan yang dibakar di dalam bambu), dan selendang Ulos. Barang-barang dilelang dengan cara paket. Misalnya, sate daging babi 1 tusuk, lemang, tuak, 1 botol bir Bintang, dan 1 botol bir Guinness, dibuka dengan harga sekian, dan seterusnya sampai penawar harga tertinggi yang akan mendapatkannya. Nah, sekarang baru tahu saya apa fungsi bir tersebut. “Tetapi mengapa harus memakai bir? Apa gak ada minuman lain yang bisa dilelang?” pikirku.

Sementara acara lelang masih berlanjut, kami undur diri. Dalam perjalanan, saya bertanya kepada Pak Wahyu, “Pak, mengapa bir Bintang dan Bir Guinness diikutsertakan di dalam acara lelang gereja?” “Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Minuman itu sudah biasa bagi mereka,” jawabnya. Yah, itulah tradisi dan kebiasaan. Tradisi dan kebiasaan yang tidak mudah untuk diubah. Tradisi sekuler dan kebiasaan yang tidak biasa itu ada di dalam tubuh gereja, dan ikut serta dalam upaya pembangunan gereja. Pencapaian-pencapaian program gereja demi terwujudnya gereja yang mandiri dan berkembang, diwarnai dengan tetap berjalannya tradisi sekuler dan kebiasaan yang tidak membangun dari jemaat gereja itu sendiri. Sebuah pertanyaan bagi kita bersama, bisakah dan mungkinkah gereja dapat berjalan, berkembang, tanpa ada intervensi tradisi sekuler dan kebiasaan buruk dari jemaat sendiri??

Dalam kesempatan itu juga, Pak Wahyu memberi saya Ulos, sebagai kenang-kenangan, setelah beliau menjadi penawar tertinggi dalam lelang. Saya diberi Ulos, dua tusuk sate babi dan lemang menjadi milik beliau, satu botol bir Bintang dan satu botol tuak diberikannya pada orang lain setelah orang lain itu memintanya.

Saturday, May 8, 2010

Popularity Contest??


The Christian life is not a popularity contest! Following Jesus' example, we should share the Gospel with the poor, immoral, lonely, and outcast, not just the rich, moral, popular, and powerful.

IN HIS LIGHT, WE MAY SEE LIGHT



Oh Thou who dwellest in the light that is unapproachable and full of glory, who is in the fullest of time didst send Thy Son who is the light of the world, in His light may we see light clearly. In His light may we see the majesty of Thy being and the graciousness of Thy purpose. In His light may we see our world and understand it, in this the time in which our lot is cast.
To that end bless us as we assemble together here seeking Thy light upon our work. Graciously grant, O Lord of light and glory, that this journal may ever be loyal to Thy truth and to Thy gracious purpose for the world, and may it too be ever relevant to the time in which we live and to its challenge. May the Holy Spirit of truth lead us into all truth. And may the grace of our Lord Jesus Christ, who is light and live and the way to both, graciously grant us a sense of His luminous presence that we may truly guided in all our deliberations, whether to analyze or decide, whether to explore Thy will or to be challenged by human need, in the name of Him who taught us to pray when we say: Our Father, who art in Heaven . . .

John A. Mackay (1889-1983). This prayer was offered by Dr. Mackay as president emeritus of Princeton Theological Seminary and honorary chairman of the Editorial Council of Theology Today at its meeting in Princeton on April 14, 1961. The motto of the journal at the time and until 1990, given to it by Dr. Mackay, was “Our Life in God’s Light.”

Dikutip dari A book of Reformed Prayers, (Louisville: Westminster John Knox Press, 1998) 116.

Blossom Flower


Just as the flower can never blossom when it never sees the sunlight, so our lives can never flower with the grace and beauty they ought to have until they are irradiated with the light of the presence of Jesus.
Barclay, William, Daily Study Bible Series: The Gospel of John - Volume 2 Chapters 8-21 (Revised Edition), (Louisville, KY: Westminster John Knox Press) 2000, c1975.

Wednesday, February 10, 2010

MISI

Misi adalah keseluruhan gaya hidup Kristiani, termasuk di dalamnya tanggung jawab pemberitaan Injil maupun tanggung jawab sosial, dengan didominasi oleh keyakinan bahwa Kristus mengutus kita ke dalam dunia sebagaimana Sang Bapa telah mengutus Dia ke dalam dunia, dan bahwa karena itu kita harus pergi ke dalam dunia - untuk hidup dan bekerja bagi Dia. - John Stott -